Kurikulum 2013 Diprediksi Juga Bakal Berumur Pendek

Kompas.com - 29/11/2012, 18:51 WIB
Penulis Riana Afifah
|
EditorCaroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com - Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dijalankan sejak tahun 2006 akan segera digantikan oleh Kurikulum 2013 mulai Juni tahun depan. Namun kurikulum baru ini diprediksi tidak akan jauh berbeda nasibnya dengan kurikulum sebelumnya.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, Raihan Iskandar, mengatakan bahwa perubahan kurikulum yang ada saat ini hanya fokus pada materi ajar saja. Sementara aspek pedagogik atau metode pengajaran yang dilakukan di sekolah tidak mengalami perubahan yang signifikan.

"Perubahan kurikulum ini masih fokus pada aspek materi ajar tanpa merevisi aspek guru dan pedagogiknya. Sebagus apapun materi ajar tidak akan diserap optimal oleh peserta didik tanpa pola ajar yang baik," kata Raihan saat dihubungi, Kamis (29/11/2012).

"Nanti ujung-ujungnya, kurikulum 2013 tidak akan berguna. Cuma sebentar saja kurikulum direvisi lagi. Gonta-ganti kurikulum seperti ini tidak akan efektif," imbuh Raihan.

Ia menegaskan bahwa aspek pedagogik yang berhubungan dengan guru ini sangat penting. Pasalnya, guru merupakan eksekutor yang menentukan berhasilnya penerapan kurikulum terhadap para peserta didik di sekolah. Untuk itu, pembahasan di tingkat atas mestinya menyinggung juga masalah ini bukan hanya sibuk berdebat masalah jumlah mata pelajaran.

Selanjutnya, ia mempertanyakan bentuk pembelajaran dari kurikulum baru ini. Pihak kementerian selalu menyebut bahwa dengan kurikulum baru ini, anak-anak yang diminta aktif mencari tahu sedangkan guru hanya mengarahkan anak-anak ini untuk melakukan observasi sendiri.

"Kurikulum baru ini kan maunya siswanya yang aktif. Tapi bagaimana bentuknya? Sepertinya ya masih tatap muka di kelas juga," ujar Raihan.

Hal serupa pernah diungkapkan oleh Direktur Institute of Education Reform of Universitas Paramadina, Utomo Dananjaya bahwa selama ini kurikulum hanya dianggap semacam daftar mata pelajaran saja. Akibatnya, cara pandang yang salah tentang kurikulum ini juga membuat pola yang salah saat mengubah kurikulum.

"Pengurangan dan penambahan mata pelajaran itu bukan makna dari kurikulum. Jadi, jangan memandang kurikulum hanya mata pelajaran saja agar tidak salah sasaran," ujar Utomo.

Baca tentang
    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Close Ads X