"Augmented Reality" Bantu Pelajari Budaya Indonesia

Kompas.com - 30/11/2012, 09:14 WIB
EditorReza Wahyudi

Aditya Panji/KOMPAS.com Culture ARhibition, dokumentasi kebudayaan Indonesia dalam teknologi augmented reality (AR)

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada cara unik mendokumentasikan budaya Indonesia. Melalui sebuah aplikasi di perangkat mobile dan lembaran kartu yang mendukung teknologi realitas tertambah atau augmented reality (AR), pengetahuan tentang budaya Indonesia bisa dipelajari secara lebih interaktif.

Produk ini bernama Culture ARhibition, yang dikembangkan oleh Anantarupa Studio dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Direktur Anantapura Ivan Chen, memperkenalkan Culture ARhibition di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (28/11/2012). Anantapura telah mendokumentasikan kebudayaan 12 provinsi yang ada di Indonesia, meliputi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan seluruh provinsi di pulau Sumatera.

Ada pun yang didokumentasikan adalah pakaian adat, rumah adat, senjata, alat musik, hewan khas suatu daerah, tanaman, dan tarian.

Setiap gambar dari benda budaya itu dicetak dalam selembar kartu. Tapi ini bukan kartu sembarangan, ini adalah kartu yang didesain khusus untuk augmented reality.

Aditya Panji/KOMPAS.com Kartu-kartu Culture ARhibition

Kartu-kartu ini menjadi objek yang disorot oleh kamera perangkat mobile yang telah dibenamkan aplikasi untuk membaca kode augmented reality. Saat mendemonstrasikan Culture ARhibition, Anantapura Studio menggunakan perangkat smartphone dan tablet berbasis Android. Begitu kamera menyorot kartu-kartu itu, aplikasi akan membaca kartu, lalu memunculkan objek virtual baru dalam lingkungan nyata 3 dimensi, dan secara real-time.

Nah, inilah yang disebut augmented reality atau realitas tertambah. Tak seperti realitas maya yang sepenuhnya menggantikan kenyataan, realitas tertambah sekedar menambahkan atau melengkapi.

Aditya Panji/KOMPAS.com Rumah adat dan pakaian adat di Culture ARhibition

Jika kartu bergambar rumah adat Padang disorot oleh kamera, objek virtual yang muncul di layar perangkat mobile adalah Rumah Gadang yang bisa dilihat secara 3 dimensi. Jika yang disorot adalah gambar pakaian adat, maka akan nampak laki-laki dan perempuan mengenakan pakaian adat daerah tertentu.

Ivan menjelaskan bahwa proyek ini belum rampung. Pihaknya akan menyelesaikan pendokumentasian 34 provinsi pada 2013. Kemudian pada 2014, diharapkan kartu Culture ARhibition sudah bisa didistibusikan secara massal dan aplikasi kamera augmented reality-nya sudah bisa diunduh di toko aplikasi Google Play dan Apple App Store.

Aditya Panji/KOMPAS.com

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.