Kompas.com - 14/12/2012, 09:00 WIB
|
EditorAgus Mulyadi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pencapaian prestasi belajar siswa Indonesia di bidang sains dan matematika, menurun. Siswa Indonesia masih dominan dalam level rendah, atau lebih pada kemampuan menghafal dalam pembelajaran sains dan matematika.

Demikian  hasil Trends in Mathematics and Science Study (TIMSS) yang diikuti siswa kelas VIII Indonesia tahun 2011. Penilaian yang dilakukan International Association for the Evaluation of Educational Achievement Study Center Boston College tersebut, diikuti 600.000 siswa dari 63 negara.

Untuk bidang Matematika, Indonesia berada di urutan ke-38 dengan skor 386 dari 42 negara yang siswanya dites. Skor Indonesia ini turun 11 poin dari penilaian tahun 2007.

Pada TIMSS matematika kelas VIII tersebut, peringkat pertama diraih siswa Korea (613), selanjutnya diikuti Singapura. Nilai rata-rata yang dipatok 500 poin.

Adapun bidang sains, Indonesia berada di urutan ke-40 dengan skor 406 dari 42 negara yang siswanya dites di kelas VIII. Skors tes sains siswa Indonesia ini  turun 21 angka dibandingkan TIMSS 2007.

Wono Setyabudhi, dosen matematika dari Institut Teknologi Bandung, yang dihubungi dari Jakarta, Jumat (14/12/2012), mengatakan, pembelajaran matematika di Indonesia memang masih menekankan menghapal rumus-rumus dan menghitung. Bahkan, guru pun otoriter dengan keyakinannya pada rumus-rumus atau pengetahuan matematika yang sudah ada.

"Padahal, belajar matematika itu harus mengembangkan logika, reasoning, dan berargumentasi. Sekarang ditambah malah harus bisa meyakinkan orang lain. Ini tidak pernah dikembangkan dalam pendidikan Matematika di sekolah," kata Wono.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Wono, kelemahan utama buruknya pembelajaran matematika akibat kualitas guru matematika yang rendah. Karena itu, penguatan kualitas guru matematika perlu diprioritaskan.

"Untuk pembelajaran tematik integratif yang hendak diberlakukan di Kurikulum 201 juga dicermati. Jangan matematika jadi tidak berkembang," kata Wono.

Terkait prestasi sains siswa Indonesia yang masih di level rendah dan intermediate juga perlu perhatian serius. Adanya keinginan pemerintah untuk menggabungkan IPA dalam mata pelajaran lain seperti bahasa Indonesia di jenjang SD, harus dicermati serius. Dari berbagai masukan soal struktur kurikulum di SD, pendidikan sains dirasakan tetap perlu ditonjolkan sebagai mata pelajaran tersendiri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.