LPTK Belum Miliki Standar Kualitas

Kompas.com - 18/01/2013, 04:31 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Lembaga pendidikan tenaga kependidikan atau LPTK yang mencetak calon guru hingga saat ini tidak memiliki standar kualitas. Perizinan pun sangat mudah keluar sehingga saat ini ada sekitar 370 LPTK, termasuk 34 LPTK negeri.

”Padahal, kualitas LPTK sangat menentukan mutu guru yang dihasilkan. Pemerintah harus selektif dalam mengeluarkan izin jika kualitas guru ingin meningkat,” kata Sunaryo Kartadinata, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia yang juga Ketua Asosiasi LPTK Indonesia (ALPTKI), Kamis (17/1), di Bandung.

Untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan guru, menurut Sunaryo, ALPTKI sedang melakukan standar LPTK, termasuk menyiapkan sistem akreditasi sendiri. Untuk 12 LPTK negeri saat ini sudah memiliki standardisasi pendidikan guru.

Ketua Asosiasi LPTK Swasta Sulistiyo mengatakan, LPTK swasta memang belum memiliki standardisasi pendidikan guru. Ini disebabkan pemerintah jarang memberikan pembinaan dan dukungan sehingga swasta harus berusaha mandiri.

”LPTK swasta sampai saat ini mampu bertahan karena pemerintah kewalahan memenuhi kekurangan guru di sejumlah daerah,” kata Sunaryo.

Menurut dia, tidak bisa dipukul rata semua LPTK tidak menghasilkan guru yang hebat. Untuk itu, pengendalian LPTK sesuai standar harus diawasi pemerintah. ”Janganlah LPTK dituding sebagai biang keladi rendahnya mutu pendidikan,” ungkap Sunaryo.

Ia mengatakan, pemikiran yang ada di LPTK tak selalu sejalan dengan kebijakan pemerintah di sektor pendidikan. Ini disebabkan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan sering kali tidak didasarkan pada kajian akademik kependidikan. ”Diperparah lagi, pendidikan dan guru acap kali jadi ajang politik,” papar Sunaryo.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Muhdi, Rektor IKIP PGRI Semarang, mengatakan, pendidikan calon guru di LPTK menyesuaikan dengan tuntutan dan kebutuhan guru di tempat mengajarnya nanti.

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Rohmat Wahab mengatakan, untuk menjaga kualitas guru, kurikulum pendidikan guru otomatis berubah menyesuaikan kebutuhan di lapangan. Namun, sampai saat ini belum ada rencana perubahan karena masih menunggu hasil akhir kurikulum baru. ”Setelah ada kejelasan barulah nanti kami desain kurikulumnya,” kata Rohmat. (ELN/LUK)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.