Kompas.com - 11/02/2013, 16:44 WIB
Penulis Riana Afifah
|
EditorCaroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com - Bisnis ijazah palsu yang terus saja beroperasi ini seolah tak bisa dibendung. Penegakan hukum dari aparat terkait pemalsuan ini dinilai tak serius terbukti dengan gerai penjaja ijazah palsu yang tetap berdiri dan aparat seperti tutup mata.

Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, mengatakan bahwa law enforcement yang tegas adalah langkah nyata memberantas maraknya ijazah palsu. Menurutnya, pihak universitas tak bisa berbuat banyak mencegah hal ini. Pasalnya, ada saja cara untuk memalsukan berbagai dokumen termasuk ijazah.

"Sekarang law enforcement-nya harus tegas. Nggak usah jauh-jauh, di Jalan Pramuka itu banyak banget. Tapi apa ada yang menindak? Pemalsuan seperti itu kan ranah polisi," kata Anies saat dijumpai di Gedung Indosat, Sabtu (9/2/2013).

Ia menegaskan bahwa tidak ada yang bisa ditolerir dari tindakan memalsukan ijazah baik bagi pembuat maupun pengguna. Untuk itu, efek jera yang paling tepat adalah penegakan hukum yang tegas tanpa harus menanti aduan dari masyarakat karena pemalsuan seperti itu sudah jelas melanggar hukum.

Secara terpisah, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti, Illah Sailah, mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah membangun sistem pendataan anak-anak yang terdaftar di sekolah dan universitas. Sistem pendataan secara nasional ini salah satunya bertujuan untuk mencegah ijazah palsu yang bertebaran.

"Jadi mendata per semester. Kalau ada yang sudah keluar dari universitas akan terdeteksi nama dan nomor induknya," ujar Illah.

Sekretaris Jendral Kemdikbud, Ainun Naim, juga menegaskan bahwa ijazah palsu ini dapat diketahui dengan memeriksa nomor induk mahasiswa. Untuk itu, keberadaan sistem satu pintu yang bertujuan mengawasi ini akan efektif mengantisipasi pemalsuan dokumen negara ini. Ia juga menganjurkan bagi perusahaan agar melakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap ijazah calon karyawannya.

"Perusahaan bisa langsung menghubungi universitas yang bersangkutan. Saat saya jadi dekan, beberapa perusahaan melakukan itu. Saya rasa itu perlu," jelas Ainun.

 

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X