Mervin Bakker: Internasionalisasi Pendidikan Bukan Komoditas Bisnis

Kompas.com - 12/02/2013, 14:11 WIB
Penulis M Latief
|
EditorLatief

KOMPAS.com - Pendidikan bukan consumer good yang akan berefek langsung dan cepat pada subyek penerimanya. Pendidikan harus dijadikan investasi sehingga keputusan seseorang menempuh studi di luar negeri adalah keputusan sekali dalam hidup dengan pertimbangan yang sangat matang.

Pandangan itulah yang dilontarkan oleh Mervin Bakker kepada Kompas.com saat pertama datang ke Indonesia untuk menjabat sebagai Direktur Nuffic Neso Indonesia dua tahun lalu. Mengaku kerasan tinggal di Indonesia, Mervin, begitu ia akrab disapa, mengakui bahwa banyak potensi pendidikan tinggi di negara ini perlu digarap terutama internasionalisasi pendidikan tinggi. Berikut petikan wawancaranya dengan Kompas.com untuk kedua kalinya:

Ini tahun kedua Anda di Neso Indonesia. Gambaran apa yang Anda dapatkan tentang Indonesia?

Tentu saja saya sangat terkesan dengan dinamika yang ada di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi sangat baik. Indonesia juga mulai semakin fokus pada internasionalisasi. Dalam sepuluh tahun ke depan, Indonesia dapat masuk dalam 10 negara dengan perekonomian terbaik. Saya sangat yakin itu!

Bagaimana dengan sistem pendidikan dan para pelajarnya?

Memang, pada saat yang sama, ketika semakin fokus pada internasionalisasi, muncul kritik di dalam negeri, terutama tentang sistem pendidikan di perguruan tinggi. Banyak praktisi bisnis melihat, bahwa masih banyak lulusan universitas tidak memiliki keterampilan-keterampilan tertentu yang mereka butuhkan ketika bergabung dalam pemerintahan dan perusahaan. Jadi, saya berpikir, bahwa mereka membutuhkan persiapan.

Saya rasa, mereka (pelajar) akan terjun dalam perkara lebih besar di Indonesia, yaitu harus ikut membantu kemajuan Indonesia. Begitu juga, tentu saja, Belanda, yang sudah memiliki pondasi kuat di negara ini dan punya sejarah panjang dengan Indonesia. Maka, hemat saya, kedua negara ini dapat duduk bersama di universitas untuk bekerja sama merekrut mahasiswa.

Kami di Neso mencoba mendorong dan memfasilitasi institusi pendidikan tinggi di kedua negara untuk berkomunikasi dan bekerja sama dalam memberikan sistem pengajaran dan pembelajaran yang terbaik bagi para pelajar.

Di tengah persaingan dengan banyak negara untuk bekerjasama dan menarik jutaan pelajar Indonesia, saya melihat keberhasilan Neso bekerjasama dengan pemerintah Indonesia dan banyak perguruan tingginya. Bagaimana hal itu bisa terlaksana dengan baik?

Ya, saya lihat itu dan tentu saja saya senang. Hanya saja, saya akui, kami sudah "keduluan" meskipun tidak terlambat. Ada banyak kompetisi dari banyak negara, dan mereka memiliki pendekatannya masing-masing. Namun, saya sangat gembira karena pendekatan Belanda yang melihat internasionalisasi dan pertukaran pelajar tidak sebagai komoditas bisnis, namun menjadikan sistem pendidikan tinggi bagian dari kekuatan Negara.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X