Pola Pelatihan Guru Diubah

Kompas.com - 01/03/2013, 02:19 WIB
Editor

jakarta, kompas - Pola pelatihan guru untuk penerapan Kurikulum 2013 akan berbeda. Metode ceramah satu arah tidak akan digunakan lagi, tetapi akan menggunakan pola diskusi interaktif dan pendampingan.

”Pelatihan akan berlangsung 52 jam, terdiri dari 33 jam tatap muka dan 19 jam pendampingan,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidik dan Peningkatan Mutu Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Syawal Gultom, Kamis (28/2), di Jakarta.

Guru yang ikut pelatihan ini, kata Syawal, bukan guru baru sehingga tidak perlu diberi materi kependidikan lagi. Pelatihan akan lebih ditekankan pada penguasaan konsep, prinsip dan implementasi Kurikulum 2013, perumusan rencana program pembelajaran (RPP), praktik mengajar di ruang kelas, hingga membangkitkan motivasi mengajar.

Pelatihan untuk instruktur nasional dan guru inti akan dilakukan April dan Mei, sedangkan untuk guru kelas dan guru mata pelajaran, pelatihan akan dilakukan Mei hingga Juni pada saat libur sekolah.

Syawal mengatakan, proses pendampingan tidak hanya diberikan selama 52 jam itu, tetapi hingga tahun 2015. Dalam pelaksanaan teknis tentang pelatihan guru, tiga guru inti akan melatih 40 guru kelas atau guru mata pelajaran.

Menanggapi rencana pelatihan ini, Direktur Eksekutif Institute for Education Reform Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen menilai pelatihan selama 52 jam tidak akan cukup, apalagi jika tidak diikuti dengan pemahaman yang memadai terhadap pedagogi dan filosofi kependidikan yang benar.

Kewirausahaan

Menyangkut pendidikan kewirausahaan yang diwajibkan di SMA/MA dan SMK, Syawal Gultom mengatakan, guru-guru yang mengampu mata pelajaran ekonomi bakal disiapkan menjadi guru kewirausahaan.

”Pendidikan kewirausahaan diharapkan bisa menumbuhkan semangat kewirausahaan sejak dini di kalangan siswa,” kata Syawal.

Secara terpisah, Presiden Universitas Ciputra Entrepreneurship Antonius Tanan mengatakan, pendidikan kewirausahaan akan berdampak pada terbetuknya kemandirian sebagai wirausaha jika diajarkan secara tepat.

”Pendidikan kewirausahaan itu seperti belajar berenang. Artinya, gurunya harus bisa melakukan dan mencontohkan kepada siswa. Jadi, sebaiknya dipilih guru yang memang memiliki minat dan pengalaman di kewirausahaan,” kata Antonius menjelaskan.

Praktisi pendidikan HAR Tilaar mengatakan, pendidikan kewirausahaan pada zaman ini sangat penting. Namun, untuk mengembangkan kewirausahaan yang bermutu, perlu kemampuan berinovasi dan berkreasi.

Yurizal, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 79 Jakarta, mengatakan, para guru belum semua memahami soal pendidikan kewirausahaan. ”Apalagi di SMA, pendidikan kewirausahaan dipertanyakan relevansinya,” kata Yurizal. (LUK/ELN)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.