Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kurikulum 2013 Masih Butuh Sosialisasi

Kompas.com - 12/04/2013, 04:14 WIB

Mulai tahun ajaran baru 2013/2014, pemerintah akan mengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sedang berlaku saat ini dengan kurikulum baru. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutnya Kurikulum 2013.

Kemunculan kurikulum tersebut terkesan mendadak karena baru diumumkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh pada September 2012. Meski pekan lalu Komunitas Sekolah Kristen dan Katolik meminta penundaan pelaksanaannya, belum ada tanda Kemdikbud bakal menundanya.

Soal Kurikulum 2013 ini menjadi tema diskusi pendidikan yang digelar Kompas yang diikuti wakil pemerintah, sekolah, dan pemerhati pendidikan. Pada kesempatan itu, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim memaparkan, perubahan kurikulum dilakukan, antara lain, karena isi kurikulum sekarang masih terlalu padat. Ini tampak, antara lain, dari banyaknya mata pelajaran dan materi yang tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak.

Alasan lain, kurikulum saat ini belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Ia dinilai belum mengakomodasi kompetensi yang dibutuhkan, seperti pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, serta kewirausahaan.

Tiga peminatan

Dalam kurikulum baru akan ada perubahan. Dari sisi struktur kurikulum untuk SMA, misalnya, ada mata pelajaran wajib dan pilihan. Untuk SMK, ada penambahan jenis keahlian berdasarkan kebutuhan.

Perubahan dari sisi proses pembelajaran, umpamanya belajar bukan hanya dalam ruang kelas, melainkan juga di lingkungan sekolah dan masyarakat. Guru tak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar. Pembelajaran mengenai sikap tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi juga melalui contoh dan teladan.

Buat kamu yang akan masuk SMA, nanti kamu harus langsung memilih satu dari tiga peminatan. Pertama, Matematika serta sains, Biologi, Fisika, dan Kimia. Kedua, sosial yang memiliki pelajaran Geografi, Sejarah, Sosiologi, Antropologi, dan Ekonomi. Sementara peminatan bahasa meliputi Bahasa dan Sastra Indonesia, Inggris, dan Arab. Ini berbeda dengan sistem sekarang yang memilih penjurusan di kelas XI.

Buat sekolah internasional di Jakarta, seperti Binus International School Serpong, High Scope Indonesia, dan Global Jaya, kurikulum baru tak jadi persoalan. Mereka sudah menerapkan praktik untuk mencetak siswa menjadi generasi kreatif dan tak lagi menempatkan guru sebagai sosok utama dalam pembelajaran.

”Pada dasarnya, kurikulum di Binus merupakan ”campuran’ dengan kurikulum internasional yang diterapkan oleh Binus,” kata Elsie, Principal Binus International School Serpong. Ia menyatakan, akan ada beberapa penyesuaian, tetapi itu bukan masalah besar.

Hal senada diungkapkan Managing Director Highscope Indonesia Antarina SF Amir. Menurut dia, tidak ada masalah menerapkan kurikulum baru. Pada dasarnya, kurikulum di sekolahnya merupakan kurikulum terintegrasi antara kurikulum nasional dan internasional yang dianut Highscope. ”Tak ada masalah. Tinggal menyesuaikan saja,” kata Antarina.

Mesti fleksibel

Kabar kurang menggembirakan datang dari sekolah biasa. ”Saya dan guru-guru belum paham soal kurikulum baru itu. Sosialisasi masih kurang,” kata kepala SMA di Jakarta Selatan.

Seorang kepala SMA di Medan, Sumatera Utara, malah mengaku baru dua kali diundang sosialisasi Kurikulum 2013. ”Sudah sosialisasi pun belum jelas. Guru juga belum ada penataran untuk menjalankan kurikulum itu. Tak tahulah mau bagaimana,” ujarnya setengah bingung.

Langkah antisipasi dilakukan Kepala SMA Negeri 5 Medan Sutrisno. Ia meminta guru Bimbingan dan Konseling dikumpulkan untuk mendapat penjelasan soal Kurikulum 2013, terutama soal peminatan. ”Peran guru BK sangat besar untuk membimbing siswa baru. Kami harus siapkan itu,” lanjutnya. Ia juga akan berkoordinasi dengan orangtua siswa baru.

Kebingungan tak hanya dirasakan guru, beberapa orangtua pun tak paham mengapa pemerintah tergesa-gesa menjalankan kurikulum baru yang belum dipahami sekolah dan masyarakat. ”Kasih dulu sosialisasi kepada orangtua biar kami bisa bantu anak dan guru untuk memilih peminatan,” kata Tiarnida, warga Medan. Ia melanjutkan, anak lulusan SMP biasanya masih labil, belum bisa langsung pilih peminatan.

Ia menunjuk ke anaknya, Sintong Hutagalung, siswa SMP Santo Thomas Medan. ”Aku ingin kuliah di pertambangan, mungkin pilih peminatan sains. Namun, takut pilihan berubah,” katanya.

Sikap lebih kukuh diambil Gaby Eliora, siswa SMP Tarakanita 5 Jakarta Selatan. ”Aku pilih yang selama enggak berhubungan sama hitung-hitungan he-he-he. Pilihanku lebih ke sosial karena berhubungan banget sama cita-citaku,” tuturnya. Cewek yang bercita-cita menjadi diplomat itu merasa tak berjodoh dengan peminatan Matematika dan sains. ”Kalau bahasa, aku bisa ambil kursus sendiri,” lanjutnya.

Ibunya, Jeanny Wulur, sependapat dengan Tiarnida agar soal pilihan peminatan tak di-”patok mati”. Sistem seharusnya membolehkan anak pindah peminatan jika ternyata keinginan kuat ke salah satu peminatan mungkin muncul belakangan. ”Namanya juga baru diterapkan, ya, harus ada masa peralihan dan penyesuaianlah,” saran Jeanny.(DOE/TRI)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com