Sejak Lama, Ujian Nasional Sudah Gagal

Kompas.com - 16/04/2013, 17:56 WIB
Penulis Riana Afifah
|
EditorCaroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com  Sekitar 48 tahun lamanya, warga negara Indonesia mengenal ujian kelulusan. Namanya bermacam-macam, tetapi mengusung tujuan yang sama, yaitu lulus dari jenjang satu untuk melanjutkan ke jenjang lainnya. Ironisnya, tak satu pun dinilai berhasil memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia.

Penasihat Ikatan Guru Indonesia (IGI), Itje Chodijah, mengatakan bahwa sekian lama ujian penentu kelulusan ini hanya memenuhi agenda pemerintah untuk melanjutkan proyek dengan aliran dana yang besar.

"Kalau dibilang keberhasilan UN itu keberhasilan seperti apa? Lulus semua itu dibilang berhasil? Itu hanya keberhasilan semu. Sejak lama, UN ini sudah gagal," kata Itje saat dijumpai seusai jumpa pers pelaksanaan UN di Kantor ICW, Jakarta, Selasa (16/4/2013).

Seperti diketahui, Ujian Nasional (UN) yang dikenal sekarang berawal dengan nama Ujian Negara pada tahun 1965-1971, lalu sempat diambil alih oleh sekolah dan disebut Ujian Sekolah pada tahun 1972-1979. Mulai tahun 1980-2000, Ujian Sekolah diganti oleh Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) dengan dalih mengendalikan mutu pendidikan nasional dan kembali dijalankan oleh pusat.

Memasuki periode 2001-2004, Ebtanas berubah nama menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN). Kemudian, mulai 2005 hingga saat ini, nama UN yang digunakan dengan perbedaan aturan seperti adanya nilai batas kelulusan untuk tiap mata pelajaran dan rata-rata nilai serta menggabungkan dengan akumulasi nilai rapor dan ujian sekolah.

"Tapi, pada dasarnya, mau seperti apa pun, UN ini nggak penting. Kalau dibilang nasional, standar pendidikan seperti apa yang dipakai? Standar sekolah kota pastinya," ujar Itje.

Hal ini tentu tidak adil bagi daerah-daerah di luar ibu kota atau di luar Pulau Jawa yang memiliki standar pendidikan jauh berbeda. Saat dibilang merata dan diberikan kisi-kisi yang sama, pada kenyataannya, hal tersebut sulit berjalan karena UN ini tidak hanya terbatas pada standar materi ujian.

"Sekarang soalnya sama semua. Tapi, pengajarnya yang mengajarkan materi itu kemampuannya tidak sama, lalu anaknya yang diuji. Coba bayangkan saja logikanya seperti apa," ungkap Itje.

Untuk itu, ia memberi saran agar tiap unsur pendidikan baik guru, kepala sekolah, maupun pengawas distandardisasi terlebih dahulu. Apabila standar minimumnya tercapai dan ada patokan yang pasti, anak-anak berhak diuji sesuai dengan standar yang ada.

"Jadi, UN boleh saja selama semuanya sudah standar. Ya guru, kepala sekolah, pengawas, dan sekolahnya sendiri," ujarnya.

Pada kenyataannya, pemerintah sendiri mengklasifikasikan sekolah dengan sekolah unggulan, sekolah standar nasional, sekolah reguler, sekolah satu atap, dan lain-lain. "Tapi, saat ujiannya disamakan, masuk akal atau tidak seperti itu," ungkapnya.

"Jadi, di luar penundaan UN dan teknis lainnya, ujian seperti ini sudah tidak penting. Siswa belajar hanya untuk ujian, bukan untuk menguasai suatu hal," tandasnya.

 

Baca tentang
    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Kedua Korban Terakhir Siswa SMPN 1 Turi Ditemukan, Kwarnas Pramuka Ucapkan Duka Cita

    Kedua Korban Terakhir Siswa SMPN 1 Turi Ditemukan, Kwarnas Pramuka Ucapkan Duka Cita

    Edukasi
    Susur Sungai yang Aman untuk Anak Sekolah Lebih Baik di Pinggir Sungai

    Susur Sungai yang Aman untuk Anak Sekolah Lebih Baik di Pinggir Sungai

    Edukasi
    Beasiswa Penuh S1/S2/S3 MoE Taiwan, Tunjangan Hidup Bulanan Rp 9 Juta

    Beasiswa Penuh S1/S2/S3 MoE Taiwan, Tunjangan Hidup Bulanan Rp 9 Juta

    Edukasi
    “Cookie Run Sweet Escape Adventure!”, Petualangan Sains bersama Para Cookie Hebat!

    “Cookie Run Sweet Escape Adventure!”, Petualangan Sains bersama Para Cookie Hebat!

    Edukasi
    Segera Ditutup! Rekrutmen Perwira TNI bagi Lulusan Sarjana Kesehatan

    Segera Ditutup! Rekrutmen Perwira TNI bagi Lulusan Sarjana Kesehatan

    Edukasi
     Ini Daftar Nama Tenaga Sensor Lembaga Sensor Film Periode 2020-2024

    Ini Daftar Nama Tenaga Sensor Lembaga Sensor Film Periode 2020-2024

    Edukasi
    61 Jurusan Soshum UPI Berikut Daya Tampung di SBMPTN 2020 dan Peminat 2019

    61 Jurusan Soshum UPI Berikut Daya Tampung di SBMPTN 2020 dan Peminat 2019

    Edukasi
    Daya Tampung SBMPTN 2020 UPI, Ini 29 Jurusan Saintek Berikut Peminat di 2019

    Daya Tampung SBMPTN 2020 UPI, Ini 29 Jurusan Saintek Berikut Peminat di 2019

    Edukasi
    Tingkatkan Keselamatan, Sekolah Bisa Kerja Sama dengan Organisasi Pencinta Alam dan Instruktur Profesional

    Tingkatkan Keselamatan, Sekolah Bisa Kerja Sama dengan Organisasi Pencinta Alam dan Instruktur Profesional

    Edukasi
    Indonesia Punya 718 Bahasa Ibu, Jangan Sampai Punah!

    Indonesia Punya 718 Bahasa Ibu, Jangan Sampai Punah!

    Edukasi
    Siswa SMPN 1 Turi Hanyut, Sekolah Mesti Punya Pengetahuan Manajemen Perjalanan dan Risiko

    Siswa SMPN 1 Turi Hanyut, Sekolah Mesti Punya Pengetahuan Manajemen Perjalanan dan Risiko

    Edukasi
    Penyesuaian Model Kompetensi Guru Sesuai Perkembangan Zaman Perlu Dilakukan

    Penyesuaian Model Kompetensi Guru Sesuai Perkembangan Zaman Perlu Dilakukan

    Edukasi
    Festival Sains dan Budaya 2020, Menggebrak Stigma Peringkat Bawah PISA Siswa Indonesia

    Festival Sains dan Budaya 2020, Menggebrak Stigma Peringkat Bawah PISA Siswa Indonesia

    Edukasi
    Menjadi Manusia Waskita: Mari Kita Bicara tentang Kehilangan (Bagian II)

    Menjadi Manusia Waskita: Mari Kita Bicara tentang Kehilangan (Bagian II)

    Edukasi
    Menjadi Manusia Waskita (Bagian I)

    Menjadi Manusia Waskita (Bagian I)

    Edukasi
    Close Ads X