Pak Yo, Sekolah di Dusun dan Impian yang Tersisa

Kompas.com - 01/05/2013, 16:02 WIB
EditorCaroline Damanik

KOMPAS.com - Bukan kebetulan Pak Yo datang ke Pulau Bawean bersama puluhan tenaga pendidik pada tahun 1980-an. Meski orang-orang di Pulau Jawa menyebutnya "dibuang", pria bernama lengkap Soenaryo ini tidak mengeluh. Dia justru mendatangkan perubahan positif bagi daerah yang didatanginya ini.

Wahyu Setioko, pengajar muda Indonesia Mengajar angkatan V, berkisah tentang Pak Yo yang kini menjadi Kepala Sekolah SDN 2 Kepuhlegundi, Pulau Bawean, Gresik. Jauh sebelum menjadi kepala sekolah, pria asal Tulungagung itu memeras keringatnya agar ada sekolah yang berdiri di kawasan terpencil itu.

Karena perannya selama sekitar 30 tahun, sejumlah sekolah, termasuk madrasah, sudah berdiri. Impiannya kini tinggal satu, mendirikan SMA di Dusun Panyalpangan, tempat Wahyu mengajar sekarang.

"Berjuang, Bukan Dibuang!"


Tahun 1980-an menjadi angin segar bagi dunia pendidikan Pulau Bawean. Pasalnya, daerah yang terpencil dan terisolasi ini kedatangan puluhan tenaga pendidik yang berasal dari induk pulau, yakni Pulau Jawa. Puluhan tenaga pendidik ini berasal dari berbagai macam daerah di Provinsi Jawa Timur. Mereka menempuh 120 mil perjalanan laut dari daratan Gresik menuju sebuah pulau kecil ditengah laut, bernama Pulau Bawean. Orang-orang di Pulau Jawa bilang, mereka ‘dibuang’. Benarkah?

Salah satu dari mereka adalah Pak Soenaryo, atau lebih akrab dipanggil Pak Yo, beliau kini adalah kepala sekolah SDN 2 Kepuhlegundi, sekolah tempat aku bertugas saat ini. Laki-laki berdarah Tulungagung itu tiba di desaku sekitar 30 tahun yang lalu. Lantas beliau ditugaskan mengajar di sebuah Sekolah Dasar terpencil di atas gunung. Setiap harinya, Pak Yo harus menempuh jarak 5 km menanjak gunung dengan berjalan kaki untuk tiba di sekolah. Saat itu hanya ada jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Pada siang yang terik sekalipun, Pak Yo harus turun gunung dari sekolah menuju rumahnya di pesisir pantai. Keadaan itu berlangsung hingga beberapa tahun.

Suatu hari, Pak Yo bersama rekannya berpikir untuk membuka jalan di tengah hutan-hutan itu. Ya, jalan dari pesisir (bawah) menuju ke atas gunung, tempat SD nya dan dusun kecil di sekelilingnya berada. Sayang, rencana itu tak semudah yang dibayangkan. Beberapa warga memang sudah bersedia mewakafkan tanahnya untuk dibuat jalan penghubung ke dusun di atas gunung. Namun, satu dua orang masih belum bersedia menyerahkan tanahnya. Ide membuat jalan itu pun harus pupus begitu saja.

Beberapa tahun berikutnya, ide membuat jalan penghubung seperti mencuat kembali bersama secercah harapan sepeninggal orang yang tidak bersedia mewakafkan tanahnya tersebut. Tanah itu pun menjadi warisan putranya. Pak Yo dan rekan-rekan guru lantas membujuk si putra pewaris untuk mewakafkan tanahnya. Sekali lagi, sayang, putra pewaris itu juga enggan memberikan tanahnya. Semesta pun bertindak. Seluruh warga, pejabat desa dan tokoh masyarakat setempat turut mengupayakan pemberian tanah tersebut.

Ya, akhirnya berhasil, setelah beberapa orang mengacungkan golok dan parang kepada si pemilik tanah. Tak lama, terwujudlah jalan penghubung sejauh 5 km dari pesisir pantai ke atas gunung dengan membelah hutan. Setidaknya, sudah bisa dilewati kendaraan roda dua, meski harus berjuang. Dan baru beberapa tahun terakhir ini, jalan tersebut menjadi sempurna karena dibangunnya jembatan yang melintasi sungai sebelum memasuki dusun kecil tempat SD Pak Yo berada. Sebelumnya, orang-orang masih harus menggantungkan hidupnya pada beberapa batang kayu untuk melintasi sungai.

Jalan penghubung yang lancar seolah menjadi awal yang cerah bagi dusun kecil bernama Panyalpangan itu, terutama dalam hal pendidikan. Ya, akses jalan tersebut mempermudah pergerakan Pak Yo dan tenaga-tenaga pendidik lain untuk membangun pendidikan di dusun Panyalpangan. Pak Yo pun kini menjabat sebagai kepala sekolah. Namun, konflik paradigma melanda masyarakat dusun itu. Mereka berpendapat bahwa pendidikan agama lebih penting, oleh karena itu sebaiknya sekolah yang ada dijadikan Madrasah yang khusus agama saja, tanpa ilmu umum. Sementara Pak Yo dan beberapa tokoh masyarakat menginginkan adanya pendidikan ilmu umum yang tak kalah berguna bagi masyarakat. Konflik ini berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Pak Yo membuat keputusan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X