Kompas.com - 04/05/2013, 13:42 WIB
EditorRobert Adhi Ksp

SEMARANG, KOMPAS.com - Kisruh pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2013 yang banyak ditayangkan media, termasuk televisi dan cetak, membuat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh sempat ogah menonton televisi dan membaca koran.

"Hari-hari ini, sejak dua minggu lalu hingga sekarang, saya memang tidak pernah menonton televisi, membaca koran. Daripada sumpek gitu," katanya di sela Sosialisasi Kurikulum 2013 di Universitas Negeri Semarang di Semarang, Sabtu.

Kisruh pelaksanaan UN, terutama penundaan di sejumlah provinsi akibat ketidaksiapan pencetakan naskah memang membuat wajah Nuh kerap menghiasi layar televisi dan media cetak akhir-akhir ini.

Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu mengaku menghindari layar televisi dan membaca koran yang menjadikan kisruh UN menjadi isu sentral dan menjadikannya santapan masyarakat sehari-hari.

"Ada kawan saya sembari bercanda bilang, ’Wah, popularitas Bapak (Nuh, red.) sekarang naik’. Saya jawab, popularitas memang naik, tetapi elektabilitas turun," katanya sembari tertawa dengan disambut tawa riuh dari para hadirin.

Ia mengatakan kisruh pelaksanaan UN 2013 suatu musibah yang sebenarnya mengandung makna sebagai ujian, bukan hanya siswa-siswa yang diuji, akan tetapi penyelenggaranya juga diuji.
"Ini (kisruh UN, red.) memang ujian kesabaran. ’Nek ujiane’ kesabaran, kisi-kisinya kesabaran. Diuji lulus ’opo ga’ (apa tidak, red.) ujiannya. Kalau diuji sabarnya tambah, berarti lulus. Kalau diuji tidak sabar berarti ya tidak lulus," katanya.

Ia mencontohkan ujian kesabaran yang diberikan pada Nabi Ayub yang hidupnya sengsara, tetapi Nabi Ayub bisa melewati ujian yang diberikan Tuhan itu dengan baik, berbekal kesabaran yang dimilikinya.

"Ada kalanya ujian diberikan seperti masa Nabi Sulaiman. ’Diparingi’ (Diberi, red.) pintar, ’sugih’ (kaya), pangkat. ’Kurang siji, bojone yo ayu wong Ratu’ (Kurang satu, istrinya juga cantik karena seorang ratu). Ujiannya soal syukur, kisi-kisinya juga kesyukuran," katanya.

Antara kesabaran dengan rasa syukur, kata dia, ibarat kepak sayap kiri dan kanan yang keduanya harus berjalan secara seimbang.

Selain itu, ia mengatakan apapun ujian yang diberikan kepada manusia pasti memiliki hikmahnya, termasuk dalam kondisi seberat apapun yang dialami. "Dalam kondisi ’kaya’ (seperti, red) apapun, termasuk dalam kondisi berat. Pasti ’ono manfaate’ (ada manfaatnya, red.). Begitu diuji seperti Nabi Sulaiman, kisi-kisinya syukur, saat diuji seperti Nabi Ayub kisi-kisinya kesabaran," kata Nuh.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.