Pergilah Lamkaruna, Raih Mimpimu Jadi Ulama...

Kompas.com - 07/05/2013, 12:12 WIB
EditorCaroline Damanik

-------Petir menggelegar (di otak dan hati saya)---------

Saya: ‘HAH YANG BENER BU???’

Bu Yanah: ‘Iya, tadi dia bilang di kelas. Sayang ya, anaknya pinter padahal’.

------- Aku terkesiap. Tidak, ini tidak mungkin.

Oke, sebelumnya saya jelaskan dulu apa itu Dayah. Dayah adalah sebutan bagi pesantren di Aceh. Sebagai propinsi dengan kultur Islam yang kental, Dayah tersebar banyak di sini. Mulai dari Dayah tradisional di desa-desa (yang hanya mengajarkan agama) hingga Dayah modern terpadu (yang juga mengajarkan pelajaran seperti di sekolah umum). Memang hal yang biasa bagi para orang tua untuk mengirimkan anak-anaknya bersekolah di Dayah selepas sekolah dasar. Karena memang, masalah pendidikan agama Islam sangat dijunjung tinggi di tempat ini.

Tapi ini Lamkaruna si cerdas itu! Akh....

Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa sekecewa itu. Tapi, memang aku kecewa. Sangat, amat. Bayangkan: bungkusan impian indah yang kubangun pada dirinya, tercabik seketika itu juga. Langsung kuputar otak dan mencanangkan berbagai aksi untuk menjegal rencana Lamkaruna masuk ke Dayah.
Pertama, kan kubuka cakrawalanya bahwa banyak sekali kesempatan yang terbuka untuk anak-anak secerdas dia. Akan ku ceritakan berbagai macam kisah keberhasilan sehingga dia termotivasi untuk menjalani jenjang pendidikan sesuai jalurnya. Kemudian aku akan menemui dan mempersuasi orangtuanya agar menyadari bahwa putranya adalah anak yang luar biasa sehingga pantas mendapatkan kesempatan yang lebih daripada yang direncanakan orang tuanya. Oh, dan akan kucarikan dia beasiswa sehingga orang tuanya tak perlu pusing memikirkan biaya sekolahnya.
Pokoknya banyak sekali strategi yang telah kususun untuk memenangkan Lamkaruna. Dan aku mantap: akan kulaksanakan itu dengan segenap keteguhan.
 

***

Tapi di lain hari lagi-lagi aku terkesiap. Namun ini berbeda. Terkesiapku ini melahirkan permenungan yang kemudian mengubah untaian rencana yang telah mantap tersusun. Apa pasal? Ini gara-gara sepucuk surat. Sepucuk surat sederhana yang ditulis oleh Lamkaruna sendiri.

Aku sedang menyortir sambil membaca tumpukan surat hasil karya anak-anak untuk projek sahabat pena yang akan kukirimkan ke berbagai tempat. Dan mataku langsung tertumbuk pada sebuah lembaran yang dihias dengan warna berani sehingga menarik perhatianku–itu surat karya Lamkaruna.

Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X