Melek IT dengan Angry Bird

Kompas.com - 10/05/2013, 14:50 WIB
EditorCaroline Damanik

KOMPAS.com - Bagi anak-anak di kota, komputer, laptop dan beragam gadget lainnya tentu bukan hal yang asing lagi. Tetapi, bagi para siswa Ratih Dwiastuti di SDN 4 Langkahan, Aceh Utara, komputer sekolah merupakan benda langka yang perlu dipelajari dan harus bergantian pula!

Ratih memiliki kesempatan untuk membuka wawasan mereka saat bertugas sebagai guru di sekolah tersebut melalui program Indonesia Mengajar. Sarananya, games Angry Bird yang lagi 'hits'.

Sebelum memulai, Ratih mempertimbangkan dampak positif dan negatifnya sehingga bisa menemukan pola mengajar yang tepat agar anak-anak tak semata ingin bermain games saja.

Apa caranya? Simak kisah yang ditulis Ratih berikut ini....


"Melek IT dengan Angry Bird"

Apa permainan yang lagi ngetrend di kalangan anak-anak kota besar sejak 2011 silam? Sepertinya Angry Bird merupakan jawaban yang tepat. Namun jawaban tersebut menjadi tidak tepat bagi anak-anak di SD Negeri 4 Langkahan. Mayoritas diantara mereka baru saja mengenal permainan itu. Celah ini bisa saya manfaatkan untuk mengenalkan mereka pada dunia IT. Langsung saja Angry Bird versi dektop saya install di komputer sekolah.

Saya menawarkan kepada siswa-siswa siapa saja yang ingin belajar komputer. Alhamdulillah semua antusias. Entah antusias karena ada ‘mainan’ baru atau antusias memang karena ingin bisa ngotak-ngatik komputer. Banyak yang beranggapan bahwa membiasakan permainan komputer berdampak tidak baik  bagi anak-anak. Mereka akan ketagihan dan tidak belajar bahkan sampai anti sosial. Segala bentuk dampak negatif itu ternyata bisa kita ‘taklukan’ tatkala kita memiliki ketegasan dalam membagi waktu antara ‘bermain game’ dengan ‘belajar mengenal komputer’. Pada pertemuan perdana latihan komputer ini, saya meminta mereka untuk datang ke sekolah pukul 14:00. Sekitar 1 jam saya ajarkan mereka bermain Angry Bird. Untuk apa? Untuk membiarkan mereka terbiasa memegang mouse dan melihat layar komputer dalam jangka waktu yang cukup lama. Ingat, mereka bukanlah anak-anak seperti di luar sana yang usia SD sudah diberikan gadget ini-itu. Memang pernah ada beberapa sisnwa yang bercerita bahwa mereka sudah pernah memegang komputer/laptop/gadget milik kakak atau saudaranya. Tetapi hanya sebatas memegang dan belum mengoperasikan terlalu dalam. Ketika 1 jam sudah berlalu, maka langsung dialihkan untuk belajar mengetik.

Reaksi saat pertama kali belajar komputer dilmulai, sangat beragam. Ada yang masih takut-takut menekan keyboard, ada yang menyentuh layar karena dianggap touch screen seperti HP milik kakaknya, ada yang justru lebih bisa menggunakan built in mouse laptop dibandingkan menggunakan external mouse (karena biasanya orang lebih terbiasa menggunakan external mouse, termasuk saya dulu :p), ada yang saking semangatnya dan penasaran dengan tombol-tombol yang ada, menekan tombol “power off” ketika pekerjaannya belum disimpan.

Saat itulah saya mulai menyadari bahwa Angry Bird atau game komputer tidak selalu berdampak buruk, selama anak-anak senang dan merasa butuh untuk belajar. Semoga cara ini selalu terjaga dan bisa dipakai juga untuk anak-anak lain di luar sana. Senang rasanya jika seluruh anak Indoenesia bisa ‘melek IT’, di pelosok sekalipun, sehingga tidak ‘ketinggalan jaman’ di era globalisasi ini..: )

 

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X