Dari Sini Profesor-profesor Laut Kita Akan Lahir

Kompas.com - 13/05/2013, 17:15 WIB
EditorCaroline Damanik

Keahlian masyarakat Pulau Tembang dalam mengangkat isi perut laut tak perlu diragukan lagi. Seperti yang telah aku sebutkan sebelumnya, mereka adalah profesor-profesor di bidang kelautan. Tengok saja keahlian Pak Irpan kepala sekolahku dalam menyelam. Beliau bisa menyelam hingga kedalaman 20 meter tanpa alat bantu penyelaman standar nasional apalagi standar internasional, atau Pak Sabri, beliau juga biasa menyelam untuk mencari ikan. Berkelit lincah diantara karang, mata terlatihnya mengawasi pergerakan ikan, tangan siap membidik dengan panah tradisional Suku Bajo yang terbuat dari kayu dan penggate (mata panah) yang terbuat dari besi yang diruncingkan ujungnya, akurasinya tinggi, ikan incaran tak pernah lepas. Sekali bidik, Ikan Pogot, Ikan Kadompe, Ikan Pasir, dan jenis ikan lainnya siap diangkat ke permukaan dan dihidangkan langsung di bodi  (perahu) yang memiliki dapur kecil di bagian buritan.

Itu baru sebagian kecil yang aku ceritakan tentang keahlian masyarakat Suku Bajo Pulau Tembang. Lagipula yang aku ceritakan bukanlah masyarakat yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan. Mereka yang  notabene sebagai guru saja telah sebegitu ahlinya dalam mengarungi dalamnya laut, apalagi masyarakat yang sehari-hari menyapa laut sedari subuh. Mereka bisa menyelam berjam-jam dengan alat bantu kompresor. Mengangkat berkilo-kilo isi laut, menjualnya, sebagian mereka konsumsi sendiri, sisanya mereka akan bagikan kepada warga lain yang tak bisa melaut yang telah menunggu kedatangan para pelaut hebat ini di jembatah (dermaga) Pulau Tembang.

Darimana keahlian mereka berasal? Siapa yang mengajari mereka? Lagi-lagi kalau aku yang ditanya aku menjawabnya dengan satu kalimat: Tuhan melalui permainan. Layaknya anak-anak di kota besar, murid-muridku di SD Pulau Tembang juga bermain. Mereka profesional dalam bermain. Kalau dihitung-hitung, separuh waktu dari waktu siang, mereka habiskan untuk bermain. Tapi permainan anak-anak disini sangatlah berbeda. Permainan mereka memiliki kurikulum yang tak pernah berubah, tak terpengaruh oleh pergantian Menteri Pendidikan di Jakarta sana. Inilah kurikulum yang mencetak mereka menjadi pelaut-pelaut handal, penyelam tak terbayangkan, pemanah dalam laut yang luar biasa. Hanya tiga jenis saja standar kompetensi yang harus mereka kuasai: Akurasi, pergerakan di air, dan ketrampilan tangan.

Diang (12 Tahun), muridku kelas 6, telah ahli dalam membuat biduk (perahu kecil) dari kayu lombos (bakau) dan panah. Oleng (11 Tahun) yang duduk di kelas 5, telah menjadi master dalam mengail ikan. Atau pito (11 tahun), teman sekelas oleng yang telah ahli menyelam hingga kedalaman tidak kurang dari 4 meter. Tiga orang yang aku sebutkan cukuplah untuk mewakili kepiawaian anak-anak muridku di SD Pulau Tembang dalam berkencan dengan laut. Kalau dalam hal berenang, seluruh muridku dari kelas 1 hingga kelas 6 bisa berenang di laut pada level expert. Inilah hasil didikan dari kurikulum yang konsisten dan bertujuan jelas, pendidikan melalui permainan yang berorientasi kelautan.

Dan disinilah aku menghabiskan 14 bulan hidupku, 14 bulan yang penuh petualangan, 14 bulan dengan nuansa romantisme tak bertepuk sebelah tangan. Indonesia Mengajar memiliki motto yang inspiratif yakni “setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi”. Motto yang membuat setiap orang yang membacanya tergetar dan tergerak hatinya untuk mendaftar menjadi pengajar muda. Tapi akan kuberitahu satu rahasia, dari apa yang aku alami dan rasakan, sebenarnya Indonesia Mengajar juga memiliki motto laten yaitu “setahun belajar, seumur hidup terinspirasi”. Bagaimana tidak, pada kenyataannya disini aku lebih banyak belajar kepada masyarakat. Belajar langsung kepada ahlinya. Belajar apa itu ketulusan, belajar apa itu keterbukaan, belajar apa itu janji dan tanggung jawab, belajar berdedikasi dalam pekerjaan, belajar apa itu kepercayaan, belajar apa itu cinta.

Memang setiap harinya dari pukul 07.30 hingga 12.05 WITA akulah yang berdiri di depan kelas dengan berbagai metode kreatif. Aku yang menjadi pengajar di dalam kelas bertembok kusam cagar budaya penuh bukti sejarah. Aku yang lebih dikenal dengan panggilan pak guru oleh masyarakat. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah masyarakat Suku Bajo Pulau Tembang adalah guru sebenarnya bagiku. Tak usahlah kita mengajari mereka panjang lebar tentang arti berbagi karena mereka dengan ikhlas memberikan ikan yang mereka dapatkan kepada masyarakat yang tak bisa melaut. Tak usahlah kita mengajarkan arti dedikasi karena pengabdian mereka terhadap laut telah melebihi pengabdian pegawai negeri. Tak usahlah kita mengajarkan mereka tentang arti cinta karena kecintaan mereka terhadap laut merupakan syair cinta abadi melebihi syair cinta Kahlil Gibran. Yang paling terpenting dan patut diperhatikan oleh pembuat kebijakan di Jakarta sana, tak usahlah kita mengajarkan mereka berenang.

Terima Kasih, Terima Kasih.

 
7 Februari 2013, Dermaga Inspirasi, Pulau Tembang
Menjelang Malam

Fitra Luqman Hidayat

 

Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X