Dari Sini Profesor-profesor Laut Kita Akan Lahir

Kompas.com - 13/05/2013, 17:15 WIB
EditorCaroline Damanik

KOMPAS.com - Di Pulau Tembang, Banggai, Fitra Luqman Hidayat, menemukan para "profesor laut" yang sesungguhnya. Pak Irpan dan Pak Sabri, kepala sekolah dan rekan guru Fitra di SD Pulau Tembang, adalah para profesor yang dicetak oleh alam dan budaya.

Dan Fitra yakin, suatu waktu para profesor laut tanpa kutip yang sesungguhnya juga akan lahir dari alam yang indah di timur Sulawesi Tengah ini. "Kurikulum alam" di Banggai telah terbukti mencetak generasi mudanya menjadi pelaut-pelaut handal, penyelam tak terbayangkan, pemanah dalam laut yang luar biasa.

Sebagai guru melalui program Indonesia Mengajar, Fitra menyadari dia hanya perlu mendatangkan inspirasi bagi para anak didiknya agar bisa menggunakan potensi-potensi yang ada di dalam diri dan alam mereka untuk terus mengembangkan masyarakat dan alam mereka yang indah, bahkan Indonesia.


"Roman Pulau Tembang"

Ruangannya tidak terlalu besar, dengan jendela bertirai jala kawat. Beberapa kawat telah putus berkarat teroksidasi usia. Cat putihnya pudar karena telah sekian lama bercengkrama dengan debu, walaupun hampir setiap minggu ada yang berusaha memisahkan kemesraan diantara mereka, tapi karena cinta mereka yang begitu dalam, debu itu akan kembali ke dalam pelukan tembok putih yang memesona. Di bagian depan terdapat papan tulis berwarna hitam, tidak seberapa hitam, sedikit putih. Warna putihnya merupakan remah-remah ilmu yang masih menempel pada badan papan tulis. Jejak amal para pahlawan tanda jasa yang telah terlebih dahulu melunasi janji kemerdekaan, mencerdaskan kehidupan bangsa, di Pulau ini, The Little Bali, Pulau Tembang.

SD Pulau Tembang semula merupakan SD Inpres yang didirikan pada masa orde baru tahun 1982. Sudah 31 tahun sekolah ini berdiri, lebih tua dari usiaku saat ini. Sederhana saja bangunannya, terdapat 5 lokal yang dipakai untuk 6 kelas rombongan belajar. Jadi terdapat 1 ruangan yang dipakai untuk 2 rombongan belajar. Tidak ada ruang guru, tidak ada taman, apalagi kantin. Walaupun lebih tua dari usiaku, namun aku lebih banyak berganti pakaian daripada sang sekolah matang ini. Yah benar, dari awal pendiriannya, sekolah ini tidak pernah sekalipun direnovasi kecuali satu kali pada dua buah lokalnya. Sisanya, merupakan cagar budaya yang patut dilestarikan karena merupakan bukti sejarah kedahsyatan sekolah ini mencetak profesor dan ahli-ahli di bidang kelautan.

Bukan, bukan karena lulusan SD ini bersekolah tinggi dan mendapat gelar guru besar. Bukan pula karena mereka dikenal dan melakukan sesuatu sehingga dianggap berjasa oleh sebuah perguruan tinggi dan diberi gelar Doctor Honoris Causa. Mereka ahli karena pergaulan, mereka ahli karena kebudayaan, mereka adalah profesor-profesor di bidang kelautan yang dicetak oleh alam dan budaya. Budaya yang dihasilkan oleh kecintaan, keselarasan, serta keterikatan masyarakatnya dengan laut. Kehidupan mereka sebagian besar dihabiskan di laut, dalam arti kiasan atau dalam arti sebenarnya. Perkenalkan masyarakat luar biasa ini, masyarakat yang nafas mereka, hidup mereka, mereka dedikasikan untuk laut, mereka adalah masyarakat suku Bajo.

Kampung Bajo Pulau Tembang, merupakan salah satu kampung Bajo dari beberapa kampung Bajo yang terdapat di antara kecamatan Pagimana-Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Selain di Pulau Tembang, kampung Bajo terdapat pula di Jayabakti, Tanjung Jepara, Salipi, Lempek, Tikupon, Mayayap, hingga Pulau Poat. Kalau diminta menyebutkan kampung Bajo di tempat lain, aku menyerah. Karena hampir di setiap daerah di seluruh nusantara terdapat kampung Bajo. Mereka adalah suku yang tidak menetap di wilayah daratan. Tidak seperti suku Jawa yang memiliki kampung halaman Pulau Jawa, Suku Dayak di Kalimantan, Suku Madura dari Pulau Madura ataupun suku Batak yang berkampung halaman di Sumatera Utara. Jika aku ditanya dimana kampung halaman suku Bajo maka aku akan menjawab, lautlah kampung halaman mereka.

Aku pernah mendapatkan cerita dari Pak Sabri, salah seorang rekan guru di SD Pulau Tembang, tentang asal muasal Suku Bajo. Menurutnya, Suku Bajo adalah suku yang berasal dari Johor, Malaysia. Kisahnya begini, dahulu kala di Kerajaan Johor hiduplah seorang raja yang memiliki seorang pangeran yang sangat disayanginya. Pada suatu hari, sang pangeran lenyap tanpa jejak. Sang raja yang bersedih akhirnya memerintahkan kepada pasukan kerajaan untuk mencari pangeran yang hilang. Perintah raja adalah “cari pangeran sampai dapat, jika tidak ketemu, jangan pernah kembali!”. Pasukan kerajaan pun bergegas mencari pangeran ke segala penjuru nusantara, tapi sayang usaha mereka sia-sia, pangeran tidak pernah diketemukan. Karena janji mereka kepada raja, pasukan ini tidak pernah kembali lagi ke Johor dan bermukim di laut atau di tepian laut. Itulah mengapa mereka disebut Suku Bajo. Menurut masyarakat Bajo Pulau Tembang, Bajo adalah singkatan dari Bangsa Johor.

Kehidupan Suku Bajo Pulau Tembang tak bisa dipisahkan dari laut, ketika sang surya baru terjaga dari lelapnya, laki-laki dewasa di Pulau Tembang telah berkencan dengan eloknya laut, menjamahi kedalamannya, mengorek isi perutnya, dan kemudian mereka tinggalkan sejenak saat mentari hendak kembali ke peraduan. Mereka akan kembali lagi berkencan dengan laut apabila sang dewi malam sedang tersenyum ramah memancarkan sinarnya. Pada saat itu, kendo’, begitu masyarakat sini menyebut cumi-cumi, sedang banyak-banyaknya terkandung di dalam perut laut sekitar Pulau Tembang. Pada saat itu pula, aku mengalami fase penuh kebahagiaan biologis dalam memenuhi isi perut yang kusebut dengan pesta suntung (cumi-cumi).

Keahlian masyarakat Pulau Tembang dalam mengangkat isi perut laut tak perlu diragukan lagi. Seperti yang telah aku sebutkan sebelumnya, mereka adalah profesor-profesor di bidang kelautan. Tengok saja keahlian Pak Irpan kepala sekolahku dalam menyelam. Beliau bisa menyelam hingga kedalaman 20 meter tanpa alat bantu penyelaman standar nasional apalagi standar internasional, atau Pak Sabri, beliau juga biasa menyelam untuk mencari ikan. Berkelit lincah diantara karang, mata terlatihnya mengawasi pergerakan ikan, tangan siap membidik dengan panah tradisional Suku Bajo yang terbuat dari kayu dan penggate (mata panah) yang terbuat dari besi yang diruncingkan ujungnya, akurasinya tinggi, ikan incaran tak pernah lepas. Sekali bidik, Ikan Pogot, Ikan Kadompe, Ikan Pasir, dan jenis ikan lainnya siap diangkat ke permukaan dan dihidangkan langsung di bodi  (perahu) yang memiliki dapur kecil di bagian buritan.

Itu baru sebagian kecil yang aku ceritakan tentang keahlian masyarakat Suku Bajo Pulau Tembang. Lagipula yang aku ceritakan bukanlah masyarakat yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan. Mereka yang  notabene sebagai guru saja telah sebegitu ahlinya dalam mengarungi dalamnya laut, apalagi masyarakat yang sehari-hari menyapa laut sedari subuh. Mereka bisa menyelam berjam-jam dengan alat bantu kompresor. Mengangkat berkilo-kilo isi laut, menjualnya, sebagian mereka konsumsi sendiri, sisanya mereka akan bagikan kepada warga lain yang tak bisa melaut yang telah menunggu kedatangan para pelaut hebat ini di jembatah (dermaga) Pulau Tembang.

Darimana keahlian mereka berasal? Siapa yang mengajari mereka? Lagi-lagi kalau aku yang ditanya aku menjawabnya dengan satu kalimat: Tuhan melalui permainan. Layaknya anak-anak di kota besar, murid-muridku di SD Pulau Tembang juga bermain. Mereka profesional dalam bermain. Kalau dihitung-hitung, separuh waktu dari waktu siang, mereka habiskan untuk bermain. Tapi permainan anak-anak disini sangatlah berbeda. Permainan mereka memiliki kurikulum yang tak pernah berubah, tak terpengaruh oleh pergantian Menteri Pendidikan di Jakarta sana. Inilah kurikulum yang mencetak mereka menjadi pelaut-pelaut handal, penyelam tak terbayangkan, pemanah dalam laut yang luar biasa. Hanya tiga jenis saja standar kompetensi yang harus mereka kuasai: Akurasi, pergerakan di air, dan ketrampilan tangan.

Diang (12 Tahun), muridku kelas 6, telah ahli dalam membuat biduk (perahu kecil) dari kayu lombos (bakau) dan panah. Oleng (11 Tahun) yang duduk di kelas 5, telah menjadi master dalam mengail ikan. Atau pito (11 tahun), teman sekelas oleng yang telah ahli menyelam hingga kedalaman tidak kurang dari 4 meter. Tiga orang yang aku sebutkan cukuplah untuk mewakili kepiawaian anak-anak muridku di SD Pulau Tembang dalam berkencan dengan laut. Kalau dalam hal berenang, seluruh muridku dari kelas 1 hingga kelas 6 bisa berenang di laut pada level expert. Inilah hasil didikan dari kurikulum yang konsisten dan bertujuan jelas, pendidikan melalui permainan yang berorientasi kelautan.

Dan disinilah aku menghabiskan 14 bulan hidupku, 14 bulan yang penuh petualangan, 14 bulan dengan nuansa romantisme tak bertepuk sebelah tangan. Indonesia Mengajar memiliki motto yang inspiratif yakni “setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi”. Motto yang membuat setiap orang yang membacanya tergetar dan tergerak hatinya untuk mendaftar menjadi pengajar muda. Tapi akan kuberitahu satu rahasia, dari apa yang aku alami dan rasakan, sebenarnya Indonesia Mengajar juga memiliki motto laten yaitu “setahun belajar, seumur hidup terinspirasi”. Bagaimana tidak, pada kenyataannya disini aku lebih banyak belajar kepada masyarakat. Belajar langsung kepada ahlinya. Belajar apa itu ketulusan, belajar apa itu keterbukaan, belajar apa itu janji dan tanggung jawab, belajar berdedikasi dalam pekerjaan, belajar apa itu kepercayaan, belajar apa itu cinta.

Memang setiap harinya dari pukul 07.30 hingga 12.05 WITA akulah yang berdiri di depan kelas dengan berbagai metode kreatif. Aku yang menjadi pengajar di dalam kelas bertembok kusam cagar budaya penuh bukti sejarah. Aku yang lebih dikenal dengan panggilan pak guru oleh masyarakat. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah masyarakat Suku Bajo Pulau Tembang adalah guru sebenarnya bagiku. Tak usahlah kita mengajari mereka panjang lebar tentang arti berbagi karena mereka dengan ikhlas memberikan ikan yang mereka dapatkan kepada masyarakat yang tak bisa melaut. Tak usahlah kita mengajarkan arti dedikasi karena pengabdian mereka terhadap laut telah melebihi pengabdian pegawai negeri. Tak usahlah kita mengajarkan mereka tentang arti cinta karena kecintaan mereka terhadap laut merupakan syair cinta abadi melebihi syair cinta Kahlil Gibran. Yang paling terpenting dan patut diperhatikan oleh pembuat kebijakan di Jakarta sana, tak usahlah kita mengajarkan mereka berenang.

Terima Kasih, Terima Kasih.

 
7 Februari 2013, Dermaga Inspirasi, Pulau Tembang
Menjelang Malam

Fitra Luqman Hidayat

 

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X