Fitri "Kalahkan" Gangguan Saraf demi Sekolah

Kompas.com - 14/05/2013, 10:20 WIB
EditorCaroline Damanik

KOMPAS.com — Bagi banyak anak dan remaja di daerah kecil, dalam keterbatasan ekonomi dan fisik, sekolah menjadi barang langka yang harus diperjuangkan dengan keras. Fitri Muyanti menjadi contohnya.

Setelah sempat tiga tahun vakum sekolah karena harus membantu ayah dan ibunya menyadap karet, dia mengaku sempat malu untuk melanjutkan sekolah dan belajar bersama anak-anak lain yang usianya lebih muda. Namun, jalan itu pun tak mudah ketika dia menderita gangguan saraf setelah membantu orangtuanya mencari uang dengan menambang emas di desa tetangga.

Karena kondisi itu, Fitri diperkirakan tak bisa melanjutkan sekolah. Namun, semangat kemudian mengembalikannya duduk di bangku sekolah.

Hilda Luluin, pengajar muda Indonesia Mengajar yang bertugas di SMPN SATAP 04 Bunut Hilir, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, mencatat semangat Fitri yang pernah dituangkannya dalam sebuah cerita...


 
"Pemotong Getah Bisa Jadi Guru"


Namanya Fitri, remaja putri kelas VIII di SMPN SATAP 04 Bunut Hilir. Rambutnya agak keriting dan kulit yang putih kemerah-merahan. Fitri seharusnya duduk di kelas XI SMA. Tiga tahun dia tidak sekolah dan menjadi  penyadap getah karet. Fitri pernah bercerita bahwa awalnya dia malu untuk melanjutkan sekolah ke SMP karena usianya yang sudah berlebih. Namun kini Fitri sangat bersyukur karena  dua tahun yang lalu ia mengikuti nasihat ibunya untuk melanjutkan sekolah.

Fitri anak yang sangat pendiam. Jarang aku melihatnya nongkrong di tempat Kak Neng (penjual makanan dekat sekolah) sebelum kelas dimulai ataupun saat istirahat seperti murid-murid yang lainnya. Jika aku mempersilahkannya  maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal atau percakapan Bahasa Inggris, dia selalu maju dengan muka merah karena malu. Meskipun tampak malu-malu, Fitri selalu bisa mengerjakan soal-soal dengan lancar dan benar. Ia sangat menyukai pelajaran Biologi dan tidak pernah absen mendapatkan nilai tertinggi di pelajaran itu.

Liburan semester ganjil kemarin, Fitri mengalami musibah saat membantu orang tuanya mencari uang dengan menambang emas di desa tetangga yang mengakibatkan gangguan syaraf. Hampir dua bulan ia berobat ke kota dan tidak mengalami kemajuan. Kelas terasa kurang tanpa kehadirannya.  Keadaan Fitri membaik setelah diobati secara tradisional. Namun demikian saudaranya menuturkan bahwa kemungkinan besar Fitri tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Sangat kecewa rasanya ketika mendengar berita itu. Apalagi sebelum liburan berlangsung Fitri menuliskan sebuah cerita :

"Nama saya Fitri Muyanti. Saya adalah anak yang mandiri di sekolah maupun di rumah. Saat sekolah saya tidak pernah jajan. Karena saya berfikir, kalau jajan setiap hari uang saya habis. Uang yang diberi Ayah dan Ibuku untuk jajan di sekolah saya tabung. Supaya saya bisa melanjutkan sekolah lagi. Supaya saya bisa seperti teman lain yang bisa sekolah dan mengejar cita-cita saya. Jika cita-cita saya tercapai saya akan membahagiakan kedua orang tua saya.

Saya sebagai anak yang mandiri, kerja untuk membiayai sekolah diri sendiri. Pekerjaan saya adalah memotong getah. Setiap pagi saya motong getah bersama ibu saya. Saya dan ibu saya berangkat ke kebun menggunakan sampan dan dayung. Kami memotong getah dengan perlahan-lahan supaya kayu yang kami potong tidak mudah mati.

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X