Kompas.com - 14/05/2013, 18:45 WIB
|
EditorTjahja Gunawan Diredja

JAKARTA, KOMPAS.com-  Pendidikan di sekolah sampai saat ini umumnya masih berfokus membekali siswa dengan kompetensi-kompetensi hardskills, seperti pengetahuan yang bersifat hafalan.

Adapun pengetahuan tentang dunia kerja umumnya didapat saat terjun ke dunia kerja. Sementara itu, komptensi sofskills yang tak kalah pentingnya bagi siswa kurang diperhatikan.

"Kompetensi hardskills bagi anak-anak Indonesia bisa dikatakan tidak masalah, sangat bagus. Tetapi kalau yang terkait dengan kompetensi softskills seperti kepercayaan diri berbicara di depan umum atau mempresentasikan pendapat, bernegoisasi, berpikir kritis, dan bekerja sama, sangat kurang, " kata Hasnul Suhaimi, President Director Chief Executive Officer PT XL Axiata Tbk, di Jakarta, Selasa (14/5/2013).

Menurut Hasnul, perusahaan-perusahaan dapat berkontribusi dalam pembentukan softskills anak-anak muda lewat program tanggung jawab sosial perusahaan di bidang pendidikan.

Sebagai contoh lewat kegiatan internship atau magang, bisa membekali mahasiswa atau  lulusan baru untuk mengembangkan kemampuan softskills yang dibutuhkan dalam hidup, terutama yang berkaitan dengan dunia kerja.

Goris Mustaqim, Social Entrepreneur dan Ketua Asgar Muda Foundation, mengatakan pendidikan tidak hanya mengembangkan intelektualitas siswa, tetapi juga mengembangkan potensi anak didik.

"Acuan untuk mengembangkan siswa bukan bersifat global saja. Tetapi yang penting dari pengetahuan tentang nilai-nilai, potensi, dan kearifan lokal, sehingga anak-anak bangsa bisa  mengembangakan apa yang dimiliki bangsa ini hingga mengglobal," jelas Goris.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Goris, pendidikan yang diseragamkan hanya akan membuat potensi lokal sulit berkembang dan anak-anak tercerabut dari akar budaya.

Generasi muda perlu dibekali dengan kompetensi inovatif, kreatif, dan kewirausahaan supaya dapat mengembangkan potensi dirinya dan daerahnya.

Sementara itu,  Shafiq Pontoh, Ketua Umum Indonesia Berkibar, mengatakan kepedulian pada kemajuan pendidikan untuk mengubah nasib anak-anak bangsa, terutama yang dari keluarga miskin, dapat dilakukan siapa saja dalam bentu apa saja.

Gerakan Indonesia Berkibar mendorong beragam pihak yang peduli pendidikan untuk bisa bergandengan tangan berkontribusi memajukan pendidikan supaya berdampak lebih besar.

"Keprihatinan kita terutama akses pendidikan masih sulit bagi anak-anak miskin. Di sisi lain, kita prihatin dengan pendidikan karakter dan softskills yang belum menjadi hal penting dari pendidikan anak-anak kita di sekolah. Dengan bersama-sama, perubahan untuk pendidikan yang lebih baik dapat kita wujudkan segera," kata Shafiq.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.