Bidikmisi Telat, Mahasiswa Gali Lubang Tutup Lubang

Kompas.com - 15/05/2013, 10:23 WIB
|
EditorCaroline Damanik

KOMPAS.com - Bagaimana jadinya ketika andalan utama untuk mengongkosi perkuliahan dan hidup terhambat? Tentu saja banyak dari mahasiswa yang mengalami hal tersebut ”menjerit”. Itulah yang terjadi saat Beasiswa Pendidikan bagi Mahasiswa Berprestasi terlambat penyalurannya.

Penerima Beasiswa Pendidikan bagi Mahasiswa Berprestasi (Bidikmisi) yang merupakan mahasiswa dari keluarga tidak mampu ini kesulitan membiayai kuliah dan hidup sehari-hari. Banyak di antara penerima beasiswa itu kebingungan dan berupaya mencari cara agar kuliah tidak terputus. Walaupun pencairan beasiswa sudah kembali normal pada 6 Mei lalu, sejak Januari 2013 pencairannya tertunda sehingga membuat hidup mereka kembang kempis.

Alasan tersendatnya penyaluran Bidikmisi itu adalah karena pemerintah mengalihkan tabungan Bidikmisi dari BNI ke Bank Mandiri. Pengalihan tabungan itu membuat penyaluran beasiswa terkendala.

”Saya tidak tahu alasan pastinya. Namun, menurut pihak kemahasiswaan di jurusan, keterlambatan itu terjadi karena pengalihan tabungan dari BNI ke Bank Mandiri,” kata Abdul Rohman, mahasiswa asal Garut, Jawa Barat, yang mengambil jurusan Pendidikan Sosiologi di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, pekan lalu. Hampir seluruh mahasiswa angkatan 2010 dan 2011 di kampus itu terlambat menerima Bidikmisi.

Seharusnya Abdul menerima Rp 600.000 per bulan. Namun, sejak awal semester ini, yakni Januari, uang Bidikmisi belum disalurkan. Baru pada 6 Mei lalu, Abdul menerima kartu ATM dan buku tabungan Bank Mandiri yang sudah berisi uang Bidikmisi senilai Rp 3,6 juta. Uang itu adalah akumulasi dari pencairan Bidikmisi yang semestinya setiap bulan.

”Lima bulan telat,” kata Abdul.

Lima bulan tanpa beasiswa yang dijanjinkan itu membuat Abdul dengan berat hati membebani orangtuanya. Dia terpaksa meminta kiriman dari orangtuanya Rp 200.000 per dua minggu. ”Jumlah itu besar bagi kami. Orangtua saya sebenarnya keberatan karena mereka buruh tani. Hanya saja mereka tidak tega anaknya enggak makan,” tuturnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Beruntung Abdul Rohman tidak harus membayar uang untuk indekos. Ia tinggal di asrama Pesantren Nurun Nikmah, Sarijadi, Bandung. Di asrama itu, dia dipungut biaya Rp 30.000 untuk iuran wajib dan membayar listrik.

Asrama mereka cukup bersih. Setiap kamar berukuran sekitar 12 meter persegi itu diisi 4-5 mahasiswa. Umumnya mereka adalah mahasiswa UPI yang datang dari luar Bandung, seperti Ciamis, Garut, dan Tasikmalaya.

”Kalau saya ngekos, uangnya enggak cukup. Di sini (Bandung) biaya indekos Rp 300.000-Rp 400.000 per bulan. Daripada untuk indekos, lebih baik ditabung untuk biaya tugas,” katanya yang meraih indeks prestasi (IP) semester terakhir 3,27.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.