Kompas.com - 15/05/2013, 10:23 WIB
|
EditorCaroline Damanik

Wawas Aliyul H, mahasiswa lainnya, menuturkan, ia berusaha mencari pekerjaan agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saat uang Bidikmisi tersendat dikirimkan. Naasnya uang di kantongnya yang tinggal Rp 50.000 lenyap karena ditipu.

”Saya pernah mendapatkan panggilan lamaran kerja di Leuwipanjang, Bandung. Di kantong ada Rp 50.000 untuk ongkos. Namun, sesampainya di sana, saya justru dimintai Rp 600.000 agar bisa mengikuti pendidikan dan pelatihan sebelum diterima kerja. Saya langsung menolak, eh, malah dipaksa memberikan Rp 30.000 untuk administrasi. Saya akhirnya pulang ke kampus hanya membawa uang Rp 10.000,” kata Wawas.

Wawas tidak tega meminta uang kuliah kepada orangtuanya di Ciamis. Ayahya sehari-hari berdagang bubur kacang keliling kampung. Namun, orangtuanya tetap memaksakan diri mengirimi uang Wawas. ”Kadang dikirimi Rp 100.000, pernah juga Rp 200.000 per bulan. Kalau untuk makan sehari-hari di sini, saya biasanya pinjam teman-teman dekat,” katanya.

”Teman-teman mengerti kesulitan saya. Banyak yang mau meminjami uang untuk transportasi ke kampus atau fotokopi. Untunglah masih banyak yang percaya,” ujarnya.

Ketika uang Bidikmisi turun pada awal Mei lalu, ia segera melunasi utang-utangnya. Uang itu sudah hampir habis untuk membayar utang-utangnya selama lima bulan terakhir. Pepatah gali lubang tutup lubang terpaksa diterapkan mahasiswa sederhana tetapi berprestasi ini.

Butuh pendampingan

Secara terpisah Direktur Kemahasiswaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Senawi mengatakan, selama dua tahun berturut-turut pencairan anggaran di UGM terlambat. Akibatnya, UGM harus menalangi terlebih dulu biaya pendidikan mahasiswa penerima Bidikmisi.

”Tahun lalu, pencairan anggaran Bidikmisi dari Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bulan Januari-Maret terlambat dan pada tahun 2013 kejadian sama terulang. Anggaran Bidikmisi bulan JanuariMaret 2013 juga terlambat cair,” ujarnya.

Menyikapi hal tersebut, dengan alasan prinsip kemanusiaan UGM akhirnya menalangi dana Bidikmisi bagi 3.052 mahasiswa penerima Bidikmisi tahun 2010-2012. ”Kebetulan UGM punya kewenangan mengelola keuangan secara mandiri sehingga kami bisa mencari sumber dana talangan terlebih dulu.

Perlu diketahui juga, persoalan keterlambatan pengucuran anggaran pemerintah tidak hanya pada program Bidikmisi, tetapi juga pada program lain. Beberapa waktu lalu kami mengirimkan tim robot pada kejuaraan robot internasional dengan dana talangan karena pemerintah belum mengucurkan dana,” ujarnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X