Kompas.com - 15/05/2013, 10:23 WIB
|
EditorCaroline Damanik

Meski demikian, menurut Senawi, persoalan dalam program Bidikmisi bukan hanya sekadar keterlambatan pencairan uang dari pemerintah, melainkan juga soal perlunya pendampingan khusus bagi mahasiswa-mahasiswa penerima Bidikmisi. Di UGM, dari total 3.052 mahasiswa penerima Bidikmisi, sekitar 80 mahasiswa memiliki indeks prestasi di bawah 2 sehingga berpotensi menyelesaikan kuliah dalam waktu lama.

”Jatah program Bidikmisi bagi setiap mahasiswa S-1 hanya 4 tahun. Jika IP mereka kurang dari 2, mereka akan kerepotan menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun bahkan bisa terancam drop out,” kata Senawi.

Karena permasalahan ini, tanpa bantuan pemerintah, UGM berinisiatif memberikan pendampingan khusus berupa program penyelamatan mahasiswa Bidikmisi yang terkendala persoalan akademik. Mahasiswa dan dosen muda diterjunkan untuk mendampingi mereka.

Permata Sari Telaumbanua, mahasiswa Fakultas Geografi UGM angkatan 2012 asal Gunung Sitoli, Sumatera Utara, mengungkapkan, uang Bidikmisi yang diterimanya sebagian besar habis untuk biaya praktikum, fotokopi, dan mencetak tugas-tugas kuliah. Sisa dari uang tersebut baru ia gunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan makan.

Para mahasiswa penerima Bidikmisi berharap beasiswa mereka tidak telat lagi. Mereka menggantung asa pada konsistensi pemerintah dalam program Bidikmisi. (rek/abk)

 

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X