Nilai Budaya Sama Pentingnya dengan Nilai Akademik

Kompas.com - 22/05/2013, 15:54 WIB
Penulis Riana Afifah
|
EditorCaroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com - Pulang dari Amerika Serikat tidak membuatnya berkeinginan macam-macam. El Amry Bermawi Putra pulang ke almamaternya untuk mendorong para mahasiswa memiliki cara berpikir bahwa nilai budaya sama berharganya dengan nilai akademik.

Pria yang menghabiskan waktunya untuk mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional ini terpilih menjadi rektor pada tahun 2009 karena komitmennya di bidang pendidikan dan kebudayaan sangat tinggi. Masa-masa merampungkan studi S-2 di program studi Political Science, University of York, justru membuatnya makin menyadari jati dirinya sebagai bangsa Indonesia.

Salah satu hal yang sangat menarik minatnya adalah mata kuliah kebudayaan lokal. Dalam mata kuliah itu, para mahasiswa belajar kebudayaan setempat. Untuk para mahasiswa asli di sana, hal ini tentu saja meneguhkan rasa cintanya pada lingkungan sekitar. Bagi El Amry, kesan yang mendalam pada mata kuliah tersebut melahirkan tekad agar mata kuliah semacam itu juga dinikmati oleh generasi muda Indonesia dari jurusan apa pun.

"Untuk itu, saya kembali ke sini dan kembali ke UNAS untuk menularkan apa yang sudah saya dapat di sana," ujar El Amry saat dijumpai di Kampus Unas, Jakarta, Senin (20/5/2013).

Selama mengenyam pendidikan di Amerika Serikat pula, El Amry melihat banyaknya orang asing yang kagum dengan budaya Indonesia. Bahkan, tidak sedikit yang memilih ikut pertukaran pelajar ke Indonesia untuk mempelajari budaya bumi Nusantara dan membawa kembali ke negaranya masing-masing.

Kesan yang mendalam tentang mata kuliah dan kebudayaan plus kekhawatiran bahwa suatu saat justru generasi muda Indonesia tidak lagi mengenal budayanya dengan baik akhirnya membuat El Amry berencana memasukkan mata kuliah kebudayaan dalam sistem pendidikan tinggi di Unas.

Mata kuliah ini, lanjutnya, akan sama berharganya dengan mata kuliah lain yang melibatkan unsur asing dalam proses belajar-mengajarnya. Dengan demikian, rasa nasionalisme dan jiwa kebudayaan mahasiswa dan dosen sama-sama dipupuk.

"Jadi nanti anak-anak bisa ambil mata kuliah gamelan, tari dan lain-lain lalu dihargai dua SKS," ujar El Amry.

"Karena kalau tidak begitu lama-lama anak akan lupa pada budaya Indonesia. Sedangkan orang luar rela datang ke sini untuk belajar budaya dan menyebarkannya di sana," imbuhnya kemudian.

Di sela-sela pembicaraan tentang kehidupan di kampus, El Amry sempat mengakui bahwa dia kerap mengingatkan dua putrinya yang tengah menyelesaikan pendidikan tinggi di luar negeri agar tetap mempelajari budaya Indonesia dan tidak menjadi 'kebarat-baratan'.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X