Kompas.com - 24/05/2013, 17:18 WIB
Penulis Riana Afifah
|
EditorCaroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai Direktur Kerjasama Luar Negeri di sebuah universitas, Jito Sugardjito bertugas membuka akses para mahasiswa dan dosennya untuk mengikuti pertukaran adan melakukan penelitian ke luar negeri. Selama tiga tahun memegang jabatan ini di Universitas Nasional, kerja sama dengan universitas dari Amerika, Asia dan Eropa sudah terjalin.

Menurut pria yang meraih gelar doktornya di University of Utrecht ini, jejaring dan kerja sama dengan sangat penting, termasuk dengan pihak luar negeri. Jito bertutur bahwa dirinya bukannya tidak menemui kesulitan. Pria yang sebelumnya aktif melakukan penelitian ini mengaku, awalnya merasa pesimis dapat mengajak pihak luar untuk mau bekerja sama dengan universitasnya. Namun, jejaring yang baik membuat rencananya membawa Unas dikenal di luar negeri dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama.

"Divisi ini baru ada sekitar tiga tahun memang. Tapi sudah banyak kerja sama yang kami lakukan seperti dengan Amerika, Eropa dan juga Asia," kata Jito, panggilan dari Sugardjito, saat dijumpai di ruangannya di Kampus UNAS, Jakarta, Senin (20/5/2013).

Jito mendorong agar para mahasiswa sudah mulai belajar mengembangkan dan memelihara jejaringnya atau yang biasa dikenal dengan networking saat berada di kampus. Kemampuan berkomunikasi, aktif dan inisiatif, kematangan emosi serta wawasan yang luas bisa menunjang terciptanya jejaring yang bermanfaat.

Swasta tidak masalah

Wawasan yang luas, lanjutnya, menjadi kriteria yang perlu perhatian khusus oleh para mahasiswa dari universitas swasta yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Menurut pria yang lahir pada tanggal 25 Januari 1952 ini, para mahasiswa universitas swasta juga mampu bersaing secara akademik asalkan mempersiapkan diri dengan sangat baik.

Hanya saja, Jito mengaku kerap menemukan kendala saat anak-anak yang akan dikirim nilainya ternyata tidak sesuai dengan standar luar negeri. Lalu, pengalamannya saat menuntut ilmu di Belanda juga memberinya pengetahuan bahwa para lulusan universitas swasta memang harus memiliki nilai yang sangat baik saat memutuskan untuk sekolah ke luar negeri. Pasalnya, standar yang ditentukan di luar cukup tinggi. Jika nilainya biasa-biasa saja, maka akan sedikit mengalami kesulitan di sana.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Nilai A di sini dengan nilai A di universitas yang dituju itu beda rangenya sehingga kami harus melakukan uji terlebih dahulu pada si anak," ungkap alumni Fakultas Biologi UNAS ini.

Kendati demikian, pria yang telah menerbitkan berbagai jurnal ini mengungkapkan bahwa dengan status swasta, kerja sama luar negeri lebih mudah dan tidak terkendala alur birokrasi. Ia meyakini dengan hal itu tidak hanya UNAS tapi juga universitas swasta lain lebih mampu bersaing dan mudah mengembangkan diri.

"Kami bersyukur tidak terkendala birokrasi. Jadi lebih mudah dan cepat saat ingin mengembangkan sesuatu. Bisa jadi nanti kami yang jadi lebih unggul," tandasnya.

 

Baca tentang


    25th

    Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X