Kompas.com - 07/06/2013, 10:11 WIB
EditorCaroline Damanik

Oleh Sidharta Susila

Dengan terus merawat harapan, pendidikan itu merawat kehidupan. Gurulah aktor utamanya.

Harapan meretas batas-batas kehidupan, meringkihkan tempurung kehidupan. Harapan membuncahkan hasrat anak didik untuk meraih hidup yang berbeda, termasuk hasrat untuk menjadi seorang pemimpin.

Sayangnya, saat ini anak-anak kita tidak ada di saat dan tempat istimewa untuk menumbuhkembangkan benih kepemimpinan. Nihilnya sosok pemimpin yang konsisten merupakan salah satu ketidakberuntungan mereka. Akibat nihilnya model, benih karakter kepemimpinan anak-anak kita tidak ada di saat dan tempat yang istimewa.

Nihilnya pemimpin diekspresikan dengan jengahnya kita oleh tiadanya keteladanan pemimpin. Pada ekspresi itu juga sesungguhnya kita haus akan pemimpin yang konsisten.

Namun, kata Emha Ainun Najib pada ”Bincang Sore” (14/5) di TVRI Yogyakarta, salah kita sendiri yang memperlakukan para pejabat dan tokoh publik itu sebagai pemimpin. Budayawan ini mengajak mengkritisi persepsi kita tentang pemimpin.

Pemimpin sejati adalah mereka yang hidupnya konsisten sehingga menjadi teladan. Kalau hidup mereka tak bisa menjadi teladan, ya jangan jadikan dan anggap mereka sebagai pemimpin. Siapa saja yang bisa menjadi teladan, merekalah pemimpin sejati hari-hari ini.

Tantangan bagi guru

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sepertinya sederhana mengikuti gagasan Emha Ainun Najib itu. Namun, sesungguhnya tidak demikian bagi para guru kita hari-hari ini.

Belajar dari sejarah perguruan Bangau Putih: ”Intinya, ilmu terjadi karena kenyataan di alam, dan ilmu hanya sempurna apabila bisa dipulangkan kepada kenyataan alam. Di situ juga terdapat kewajiban bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Kita terlibat dengan masyarakat dan kehidupan. Karena itu, memulangkan ilmu kepada alam harus melewati masyarakat dan kebudayaan.” (Mind Body Spirit: Aku Bersilat, Aku Ada, 2013, 18).

Pendidikan yang memberdayakan hidup, yang membuat manusia kian berbudaya dan bermartabat, mesti berangkat dengan menggulati dan mengolah realitas kehidupan. Di akhir proses pembelajaran, guru bersama anak didik menentukan disposisi batin dan hidup yang merupakan kristalisasi pergulatan pada realitas kehidupan. Disposisi itu mesti menerbitkan ruang eksplorasi hidup yang berpengharapan dan bermartabat. Idealisme pun akhirnya bakal lahir.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.