Kompas.com - 10/06/2013, 02:53 WIB
EditorBenny N Joewono

SERANG, KOMPAS.com — Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sejak 2008 sudah "menarik" sekitar 32.000 pekerja anak dari tempat kerja untuk kembali ke sekolah, di antaranya melalui program Pengurangan Pekerja Anak pada Program Keluarga Harapan (PPA-PKH).

Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) Abdul Wahab Bangkona di Serang, Minggu, mengatakan, pihaknya telah "menarik" pekerja anak yang rata-rata berusia di bawah 18 tahun dan terutama yang bekerja dalam sektor informal.

Para pekerja anak tersebut ditarik dari tempatnya bekerja untuk dikembalikan ke dunia pendidikan atau bersekolah sesuai dengan jenjang pendidikannya. "Daerah yang menjadi sentral pekerja anak tersebut biasanya daerah yang tingkat kemiskinannya tinggi. Sebab anak-anak yang bekerja itu karena faktor dorongan ekonomi keluarganya," kata Abdul Wahab seusai penyerahan paket bantuan dan penarikan pekerja anak di Provinsi Banten, Minggu (9/6/2013).

Ia mengatakan, secara nasional sampai saat ini masih ada sekitar 300.000 pekerja anak yang kebanyakan bekerja dalam sektor informal untuk membantu kebutuhan ekonomi keluarganya.

Untuk itu, pemerintah bersama pihak swasta dan masyarakat lainnya terus berupaya mengurangi angka pekerja anak dengan menyalurkan bantuannya atau menjadi orangtua angkat dari anak-anak yang kurang mampu agar bisa bersekolah.

"Ini harus ada komitmen yang kuat dari semua pihak, karena kami anggarannya terbatas maka pemerintah daerah atau perusahaan-perusahaan harus bahu-membahu membantu anak yang kurang beruntung agar bisa sekolah bukan bekerja," katanya.

Ia mengatakan, pada 2013 pihaknya menargetkan penarikan pekerja anak untuk kembali ke sekolah sekitar 11 ribu orang di seluruh Indonesia. Penarikan pekerja anak akan dijalankan di 21 provinsi dan 89 kabupaten/kota sebagai program pengurangan pekerja anak untuk mendukung program keluarga harapan (PPA-PKH).

Wahab mengatakan, setelah menjalani program penarikan, pekerja anak akan dikembalikan ke sekolah untuk belajar formal di tingkat SD/SMP atau SMA, madrasah, pesantren, dan kejar paket.

Pemerintah telah melakukan pendekatan khusus untuk melarang anak usia sekolah bekerja dan meminta orangtua dan pengusaha tidak memaksa anak bekerja apalagi dengan risiko kehilangan nyawa.

Pihaknya juga meminta gubernur atau kepala daerah segera membentuk satuan tugas untuk melarang anak-anak bekerja. Selain itu, pemerintah juga akan menindak perusahaan yang melanggar aturan mempekerjakan anak sesuai dengan aturan yang berlaku.

"Tugas ini tidak bisa kami lakukan sendiri karena pekerja anak ini erat kaitannya dengan kemiskinan. Sehingga semua pihak harus memiliki komitmen bersama untuk mengurangi pekerja anak ini karena saling keterkaitan," katanya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.