"Kalau Hanya Ingin Jadi Presiden RI, Jangan Kuliah di Sini...!"

Kompas.com - 27/06/2013, 21:26 WIB
Suasana usai perkuliahan di kampus Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang, Kamis (27/6/2013). Bagi para mahasiswa yang tertarik dengan bahasa negara tertentu, mencari teman dari negara tersebut adalah metode paling jitu. M Latief/KOMPAS.comSuasana usai perkuliahan di kampus Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang, Kamis (27/6/2013). Bagi para mahasiswa yang tertarik dengan bahasa negara tertentu, mencari teman dari negara tersebut adalah metode paling jitu.
Penulis Latief
|
EditorLatief
BEPPU, KOMPAS.com — "Kalau hanya ingin jadi presiden di Indonesia, tak perlu kuliah di sini. Kalau sekadar ingin jadi Perdana Menteri Jepang, juga tidak perlu studi di kampus ini. Di sini hanya untuk mereka-mereka yang ingin jadi pemimpin dunia, dunia global!"

Demikian kata-kata itu dilontarkan Prof Yuichi Kondo, Dean of Admissions Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), dalam presentasinya di hadapan para guru Indonesia yang tengah mengunjungi kampus Ritsumeikan APU, Beppu, Jepang, Kamis (27/6/2013). Prof Kondo mengatakan, setiap tahun Ritsumeikan APU menerima 1.300 mahasiswa internasional sehingga pihaknya selalu berupaya menciptakan lingkungan yang benar-benar global.

"Di era globalisasi ini, satu atau dua pemimpin global tidak cukup dan sudah tugas kita untuk menciptakan mereka (pemimpin global). Untuk mendapatkan tujuan itu, kami ciptakan
lingkungan yang benar-benar global. Mereka, para mahasiswa, hidup di tengah perbedaan latar belakang bangsa, bahasa, dan budaya," kata Kondo.

Sebetulnya, jumlah seluruh mahasiswa universitas di Ritsumeikan APU tidak begitu besar. Jumlah total mahasiswanya berkisar 6.000 orang. Mereka terbagi dalam College of Asia Pacific Studies dan International Management. Sampai di titik ini, APU tak jauh berbeda dengan universitas di mana pun.

Namun, satu hal pembeda dengan universitas pada umumnya adalah komposisi mahasiswa dan tenaga pendidiknya. Sekitar 40 persen dari 6.000 mahasiswa APU adalah orang asing non-Jepang. Mereka datang dari 81 negara. Tenaga pendidiknya juga datang dari 28 negara berbeda sehingga inilah yang menjadikan lingkungan APU sebagai "kampus internasional".

Nah, apa yang terjadi seandainya harus melakukan diskusi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa berbeda-beda?

Santai dan terbuka

Anindya Pradipta, mahasiswa semester II di Asia Pacific Management (APM), Ritsumeikan APU, mengaku, banyak cara dilakukan untuk bisa bergaul dengan mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai bangsa di kampus ini. Menurutnya, ada mahasiswa yang karakternya cenderung keras jika menginginkan sesuatu, ada juga yang egoistis, atau malah bersikap kurang tegas lantaran tak ingin mengecewakan orang lain, dan sebagainya.

"Saya sangat ingin belajar budaya Jepang karena saat ini saya sedang tinggal di Jepang. Saya lihat orang Jepang tidak mau mengecewakan orang lain ketika mereka membuat janji. Itu pelajaran berharga yang saya dapatkan dari teman Jepang saya," kata Anin.

Audi Rahmantio atau disapa Audi sepakat dengan hal itu. Dia menuturkan, untuk menjadi teman dengan orang-orang dari negara lain tidak sulit. Kuncinya cukup bersikap easy going dan open mind.

"Santai dan bersikap terbuka. Perbedaan budaya, bahasa, agama, maupun nilai-nilai dan norma bukanlah masalah pelik untk berteman dengan mahasiswa internasional. Saya tidak pernah peduli asal-usul orang, datang dari mana, atau kehidupan sosialnya seperti apa. Kalau dia baik, tak ada masalah bergaul dengan dia," ucap mahasiswa APM semester IV ini.

Halaman:
Baca tentang
    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X