"Kalau Hanya Ingin Jadi Presiden RI, Jangan Kuliah di Sini...!"

Kompas.com - 27/06/2013, 21:26 WIB
Mudah sekali ditemukan, misalnya, mahasiswa Jepang fasih berbahasa Indonesa di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU). M Latief/KOMPAS.comMudah sekali ditemukan, misalnya, mahasiswa Jepang fasih berbahasa Indonesa di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU).
Penulis Latief
|
EditorLatief

Ia mengatakan, seperti halnya bergaul dengan teman dari bangsa sendiri, prinsip don't judge the book by it's cover sangat penting dijadikan kunci bergaul dengan mahasiswa internasional. Tampang urakan atau bad boy dari seorang teman Jepang misalnya, lanjut Audi, bukan ukuran bahwa sifat dan karakternya pun buruk.

"Kalau dari awal kita sudah menilai penampilan dari luar dan berpikir dari mana ia berasal, rasanya akan sulit punya teman bergaul dari negara lain. Soal bahasa, itu pun bisa diasah sambil jalan. Yang penting mau belajar dan tidak malu di depan orang," saran Audi.

Interaksi kuat

Prof Yuichi Kondo mengatakan, bahasa Inggris dan Jepang adalah pengantar resmi dalam kegiatan perkuliahan. Tetapi, di lingkungan kampus Ritsumeikan APU, setiap hari ada lebih dari 81 jenis komunikasi bahasa berbeda ditinjau berdasarkan asal negaranya.

Memang, bagi mereka yang tertarik dengan bahasa negara tertentu, mencari teman dari negara tersebut adalah metode paling jitu. Mudah sekali ditemukan, misalnya, mahasiswa Jepang atau Korea fasih berbahasa Indonesa. Atau sebaliknya, anak Indonesia pintar berbahasa Jepang atau Korea setelah satu dua tahun belajar di kampus ini.

Hal seperti itu sangat mungkin terjadi terhadap bahasa 81 negara asal mahasiswa tersebut. Selain sistem kegiatan perkuliahan di dalam kelas, banyak sekali kegiatan grup diskusi, field study, active learning, internship, dan beberapa aktivitas belajar yang tidak hanya mengandalkan perkuliahan di dalam kelas dan memungkinkan terjadinya interaksi kuat di antara mahasiswa dari beragam budaya tersebut.

"Bayangkan, mereka berinteraksi selama 24 jam dengan mahasiswa asing. Dalam 24 jam ini, mereka tidak semua mendapatkan hal-hal yang baik dan menyenangkan, tetapi juga berargumentasi dengan mahasiswa lain yang mungkin bisa membuat mereka kesal atau bahkan menangis. Tetapi, semua itu demi belajar hidup di dunia baru mereka, dunia internasional," ujar Kondo.

Prof Kondo mengatakan, posisi Indonesia sangat penting bagi Jepang, terutama ketika integrasi Asia benar-benar telah terwujud. Anak-anak Indonesia kelak bisa bekerja di lintas kota, seperti Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura. 

"Karena itulah, kami arahkan mereka di sini untuk siap berkompetisi, berkembang menjadi pemimpin global," katanya.

Halaman:
Baca tentang


    Rekomendasi untuk anda
    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    Close Ads X