Kompas.com - 12/07/2013, 14:04 WIB
Lain hari, di jejaring sosial, kerap kali terlihat huruf FacebookLain hari, di jejaring sosial, kerap kali terlihat huruf "q", yang tak lain adalah pengganti kata "aku". Huruf "q" itu digunakan alih-alih mengambil dari potongan terikat "ku".
EditorLatief

Tak heran, sering dikabarkan siswa pusing bukan kepayang saat ujian Bahasa Indonesia. Contohnya bisa dilihat di sini: "Pelajaran Bahasa Indonesia Memang Susah".

Mau berbahasa Indonesia yang baik dan benar, tentu kita harus cinta dulu supaya tidak setengah-setengah. Nah, bagaimana caranya? Melarang anak menulis "q seneng bnget ma lgu ini"? Rasanya, asalkan dia tahu mana yang benar, kenapa harus repot melarangnya dan malah berujung debat panjang dan justru menjadikan kita orang dewasa yang otoriter.

Sebenarnya, cukup saja dengan memberi tahu mana yang benar. Atau kalau memang si anak suka menulis di blog, kenapa tidak sama-sama ngeblog juga.

Jangan lupa, perlu sabar-sabar juga dan mengutamakan agar ilmu yang mau disampaikan bisa dipahami, bukan perintah belajar, belajar, dan belajar melulu, yang malah membuat anak takut dengan belajar. Lagi pula, otak manusia kemungkinan masih berkembang dan selalu butuh waktu dalam menyerap sesuatu, seperti dilansir di Otak Manusia Berkembang sampai 40 Tahun.

Soal referensi bahasa, Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan menyediakan situs KBBI online (http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/). Membaca surat kabar cetak dan online pun bisa menjadi bahan pembelajaran, walau mesti juga tetap kritis karena istilah-istilah tertentu kadang berbeda antara satu media massa dan media yang lainnya. Ini di luar kesalahan ketik tentunya.

Nah, bagaimana bahasa Indonesia menjadi lebih hidup dan disukai, terlebih lagi digunakan dengan baik? Ini tidak terlepas juga dari peran para praktisi dan ahlinya. Doa saya, mereka yang ahli bahasa tidak hanya berkutat di kampus. Mahasiswa-mahasiswanya pun boleh juga turun ke lapangan berbagi ilmu yang belum tentu bisa dengan mudah dibeli, apalagi oleh mereka yang berada di kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Mudah-mudahan, ini bisa jadi panggilan. Sebuah panggilan, demi mengantisipasi "gempa skala liter" susulan....

(Penulis adalah penyelaras bahasa di Kompas.com)

“Bergabunglah dengan komunitas kelas dunia: www.binus.ac.id

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.