Kompas.com - 27/09/2013, 13:42 WIB
Pelajar mengerjakan soal Ujian Nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD Negeri Sompok, Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Senin (6/5/2013). Ujian Nasional untuk murid SD berlangsung selama tiga hari dengan mata pelajaran yang diujikan yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO FERGANATA INDRA RIATMOKOPelajar mengerjakan soal Ujian Nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD Negeri Sompok, Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Senin (6/5/2013). Ujian Nasional untuk murid SD berlangsung selama tiga hari dengan mata pelajaran yang diujikan yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Penulis Ihsanuddin
|
EditorCaroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com -
Konvensi Ujian Nasional (UN) yang berlangsung selama dua hari telah menghasilkan 27 poin pemikiran bahwa UN tetap diperlukan ke depannya. Sejumlah peserta menganggap konsep UN yang disusun dalam konvensi tersebut sudah cukup baik, hanya saja mereka meragukan jika eksekusinya akan berjalan dengan sama baiknya.

Rektor Universitas Jambi Aulia Tasman mengungkapkan bahwa Konvensi UN ini sangat baik untuk dapat memperbaiki penyelenggaraan Ujian Nasional yang selama ini masih sering mendapatkan sorotan. Dia juga merasa terpuaskan dengan hasil yang didapat. Namun Tasman mengaku masih khawatir mengenai eksekusi di lapangan.

"Jadi hanya tinggal eksekusi mengenai hal-hal teknis saja, misalnya mengenai pengamanan saat pelaksanaan ujiannya" kata Tasman.

Hal serupa diungkapkan oleh Zulkarnain, Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Banda Aceh. Menurutnya, konvensi ini cukup baik karena mengundang berbagai kalangan untuk duduk bersama membicarakan masalah UN. Masukan-masukan yang telah diberikan, menurutnya juga dapat terakomodir dengan baik.

"Jadi ini saya rasa salah satu langkah awal berskala besar untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan UN," kata Zulkarnain.

Namun sama halnya dengan Tasman, Zulkarnain mengaku khawatir dengan eksekusi pengamanan di lapangan nanti. Dia mengakui masih terjadinya kecurangan dalam UN dan sangat kontra terhadap hal tersebut.

"Kecurangan seperti kebocoran soal itu harus diselidiki, bagaimana bisa bocor, dimana bocornya," katanya.

Konvensi UN dirancang oleh Kemendikbud. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 26 dan 27 September 2013 ini menghadirkan para pegiat pendidikan untuk bersama-sama menentukan format UN yang terbaik pada pelaksanaan UN tahun ajaran ini.

Kemendikbud sudah menggelar Pra- Konvensi UN di tiga kota di Indonesia, yakni Denpasar, Medan, dan Makassar. Ketiga kota itu dipilih dimaksudkan untuk mewakili Indonesia bagian tengah, Indonesia bagian barat, serta Indonesia bagian timur.

Pra-Konvensi dari masing-masing daerah membawa usulan manajemen UN, terutama tentang persentase nilai kelulusan. Diusulkan juga masalah pencetakan serta distribusi soal UN, apakah akan dipusatkan atau dilaksanakan di masing-masing provinsi.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.