Kala Penyandang Disabilitas Membuat Video Bersama - Kompas.com

Kala Penyandang Disabilitas Membuat Video Bersama

Kompas.com - 12/12/2013, 07:20 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - "Apakah lintas disabilitas bisa membuat video bersama-sama meski kebutuhannya berbeda?" tanya Sapto Kridayanto, salah seorang peserta workshop pembuatan video diary tentang penyandang disabilitas, awal Oktober lalu, di Jakarta. 
 
Pertanyaan bernada keraguan itu tidak hanya dilontarkan Sapto, penyandang disabilitas penglihatan, tetapi juga oleh penyandang disabilitas lain yang juga peserta. Puti Irra Puspasari, penyandang disabilitas pendengaran, di awal-awal workshop juga bingung saat hendak berkomunikasi dengan Jejen Juanda, penyandang disabilitas penglihatan. Pasalnya, dalam berkomunikasi Irra harus memakai bahasa isyarat. Padahal Jejen tidak bisa melihat bahasa isyaratnya. 
 
"Kita bisa komunikasi lewat SMS kok. Tidak susah. Kan saya pakai screen reader di handphone untuk baca SMS atau pesan-pesan di media sosial. Semua teks bisa diubah jadi suara," kata Jejen. 
 
Bagi Jejen dan penyandang disabilitas penglihatan lainnya, teknologi gadget dan aplikasi pembaca layar (screen reader) menjadi sarana komunikasi paling efektif antarpenyandang disabilitas.

"Meski duduk bersebelahan, saya tetap pakai SMS dengan mbak Ira," kata Jejen saat sesi diskusi dalam pemutaran dan diskusi video partisipatori berbentuk video diary "SAMA: Ruang, Peluang, dan Perlakuan untuk Penyandang Disabilitas", Rabu (11/12) pagi, di XXI Cineplex Empire, Yogyakarta. 


Dalam workshop tersebut, 19 penyandang disabilitas penglihatan, pendengaran, dan fisik diajak melakukan riset atas persoalan yang mereka hadapi, mengambil gambar dan suara (audio) hingga proses mengedit. Mereka didampingi mentor dan fasilitator dari berbagai latar belakang profesi mulai dari periset, fasilitator komunitas, hingga pekerja film. 
 
Ketua Yayasan Kampung Halaman (YKH) Dian Herdiany mengemukakan, pembuatan video diary ini ingin mempertemukan lintas disabilitas di satu tempat. Maka, dicarilah masalah yang dianggap paling penting dan dirasakan semua penyandang disabilitas.

Lalu dengan bantuan para fasilitator yakni Arfan Sabran (sutradara film dokumenter), Abu Juniarenta (Kampung Halaman), Raphael Wregas Banutedja (sutradara), dan Irwan Nuryadi (Kampung Halaman), para peserta menyepakati isu akses terhadap pekerjaan dan akses pada fasilitas publik. 

 
Dua isu itu dituangkan dalam video diary berjudul "Job (Un) Fair" dan "Mana Akses Kami" yang berdurasi total 30 menit karena kedua isu itu adalah masalah mereka bersama. "Awalnya susah proses diskusinya karena kita (tuli) cuma bisa lihat, sementara orang lain ngomong terus. Tapi lama-lama satu sama lain saling belajar, menghargai, memahami, dan saling bantu," kata Laura Lesmana. 
 
Pembuatan video lintas disabilitas ini termasuk pengalaman baru bagi para peserta. Sebab, selama ini, mereka lebih sering berinteraksi dengan sesama disabilitasnya saja sehingga terkesan eksklusif tertutup. 
 
Selama proses pembuatan video ini banyak kesulitan dan hambatan karena masing-masing penyandang disabilitas mempunyai keterbatasan yang berbeda-beda. Cara melihat dan menghadapi masalah pun berbeda. Di awal workshop, masing-masing penyandang disabilitas masih terlihat mengutamakan kepentingan masing-masing atau melihat persoalan hanya dari kacamata disabilitas masing-masing. 
 
Namun di akhir workshop, mereka bisa menyamakan suara bersama-sama atas persoalan bersama dalam satu video diary dengan pandangan dan semangat yang sama. Karena solusi yang diinginkan pun sama yakni adanya ruang, peluang, dan perlakuan yang sama. "Semua pasti bisa. Tidak ada hambatan. Video bersama kami ini buktinya kalau kita bisa. Apa yang kita enggak bisa?" kata Irra. 
 
Video diary mengenai akses terhadap pekerjaan dan fasilitas umum yang difasilitasi Organisasi Perburuhan Internasional dan Yayasan Kampung Halaman ini dibuat dalam rangka peringatan Hari Penyandang Disabilitas Internasional. Video diary yang merekam keseharian, perjuangan, dan harapan para penyandang disabilitas ini dibuat selama Oktober 2013. 
 
Pesan utama dalam dua video ini adalah memberikan ruang, peluang, dan perlakuan yang sama bagi penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari merupakan pengakuan bahwa mereka adalah bagian dari keberagaman Indonesia.


PenulisLuki Aulia
EditorAna Shofiana Syatiri

Close Ads X