Kompas.com - 04/02/2014, 12:15 WIB
|
EditorLatief

"Dari survei yang kami dapatkan itu, kami semakin yakin bahwa sistem online semakin unggul. Maka, tugas kami sekarang adalah menyosialisasikan ke masyarakat bahwa edukasi dengan sistem online itu sama dengan edukasi yang telah ada sebelumnya. Bahkan memiliki kemungkinan menghasilkan nilai lebih bagus dibandingkan dengan kelas face to face," ujar Hanafi.

Hanafi memaparkan, ada dua pendekatan yang dilakukan oleh pihak universitas untuk menjalankan metode MM Online ini. Pendekatan pertama adalah pendekatan kemampuan analitikal situasi dan pendekatan kreativitas (MM Online... Sedikit Tatap Muka, Kualitas Belajar Tetap Canggih!).

"Bicara mengenai pendekatan analitikal, kami menerapkannya dengan menggunakan studi kasus yang ada di sekitar kita. Misalnya, studi kasus marketing Indonesia, seperti Coca-Cola, Indosat, maupun Astra," kata Hanafi.

Saat berdiskusi mengenai masalah-masalah itu, lanjut dia, mahasiswa belajar melihat kegiatan sehari-hari. Mereka lalu diminta menganalisis, misalnya, kebijakan apa yang harus diambil ketika menjadi seorang direktur atau manajer di sebuah perusahaan multinational cooperation (MNC) sekelas instansi-instansi tadi.

"Sementara dalam pendekatan kreativitas, mahasiswa akan dipaksa membuat sebuah proyek yang akan menonjolkan daya juang mereka, kreativitas mereka. Selain menggunakan powerpoint, mahasiswa diwajibkan membeli buku referensi atau pegangan sepanjang kuliah," tutur Hanafi.

Melalui MM Online ini, Hanafi juga berharap dapat menambah aksesibilitas perusahaan atau industri terhadap pendidikan. Dengan sistem online, mahasiswa tak lagi akan memusingkan jadwal kuliah maupun kondisi jalan macet yang selalu mendera Jakarta.

"Untuk tahap pertama, program MM Online masih menggunakan bahasa Indonesia dan terfokus pada marketing di Indonesia. Ke depannya, perkuliahan di MM Online menggunakan bahasa Inggris yang aktif. Kami juga membuka kesempatan mahasiswa asing untuk mendapat gelar master bisnis di Indonesia," ujarnya.

Hanafi mengaku, keberadaan Binus University di Indonesia saat ini tidak hanya sebagai pasar bagi para mahasiswa lokal, tetapi juga bagi para mahasiswa internasional. Dia bilang, pertumbuhan yang menarik dari bisnis asing itu ada di Indonesia.

"Selain mahasiswanya akan mendapat gelar, mereka juga akan memiliki network dan efektif berbisnis di sini," pungkas Hanafi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.