Dubes Perancis Kecewa, Sangat Sedikit Pelajar Indonesia di Perancis

Kompas.com - 13/02/2014, 20:06 WIB
Michel Doisy dari Institut National Polytechnique de Toulouse memberikan sambutannya dalam pembukaan Maison de la Science francaise, Selasa (11/2/2014) di Kemang, Jakarta Selatan. Doisy menyampaikan harapannya di depan Duta Besar Prancis untuk Indonesia Corinne Breuzé. Tabita DielaMichel Doisy dari Institut National Polytechnique de Toulouse memberikan sambutannya dalam pembukaan Maison de la Science francaise, Selasa (11/2/2014) di Kemang, Jakarta Selatan. Doisy menyampaikan harapannya di depan Duta Besar Prancis untuk Indonesia Corinne Breuzé.
Penulis Tabita Diela
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com- Kekuatan negara tidak semata-mata bertumpu pada kemampuan melobi atau kedekatan wakil rakyat dengan media. Negara mampu menjadi kuat bila rakyatnya sejahtera, dan kesejahteraan bisa dimulai dari pendidikan. Karena itulah, Pemerintah Perancis melalui Maison de la Science (Rumah Ilmu Pengetahuan) menawarkan salah satu jalan keluar untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia Indonesia, yaitu melalui jalan pendidikan.

Demikian diungkapkan Duta Besar Prancis untuk Indonesia Corinne Breuze pada acara peresmian Maison de la Science di Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (11/2/2014). Breuze menyatakan bahwa Peranis akan mendukung sebanyak mungkin pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Menurut Konselor Kerjasama dan Kebudayaan, Direktur Institut Perancis di Indonesia, Bertrand de Hartingh, pada dasarnya potensi SDM Indonesia luar biasa. Kaum cendekiawan, para akademisi, dan tenaga-tenaga di tingkat kepala maupun managerial perusahaan, badan, serta organisasi memiliki kualitas di atas rata-rata.

Sayangnya, secara umum, Indonesia punya dua kelemahan. Pertama, penelitian di Indonesia kurang mendapat dukungan dan perhatian. Kedua, Indonesia secara umum juga belum menaruh perhatian pada middle management. Padahal, hal ini penting dalam segala bidang.


De Hartingh menyayangkan hal ini. Pasalnya, jika akademisi Indonesia tidak menghasilkan teknologi termutakhir hasil penelitian sendiri, negara ini akan disetir oleh teknologi yang dihasilkan oleh pihak lain. 
 
Lantas, dalam rangka mendukung hadirnya lebih banyak penelitian dan meningkatnya kompetensi masyarakat Indonesia, Universitas Toulouse di Perancis juga siap mendukung. Michel Doisy dari Institut National Polytechnique de Toulouse dalam kesempatan serupa menyatakan bahwa institusi pendidikannya sudah menyediakan banyak program dalam berbagai jenjang.

"Kami menyambut banyak pelajar dalam berbagai jenjang, sarjana, pascasarjana, master, diplome d'ingenieur, PhD di Prancis, juga PhD paruh waktu. Kami menawarkan lebih banyak pelatihan dalam Bahasa Inggris, jadi lebih mudah dalam menyambut para pelajar. Kami juga tengah mengembangkan gelar ganda (double degree) yang bisa dilalui dengan satu tahun di negara asal dan satu tahun di Perancis. Kami punya banyak kolaborasi," terang Doisy.

Doisy juga sempat mengungkapkan kekecewaannya bahwa di tahun akademik sebelumnya, jumlah pelajar Indonesia di Perancis sangat sedikit. Karena itu, Doisy mendorong para pelajar Indonesia, khususnya mahasiswa yang ingin mengenyam pendidikan dalam jenjang lebih tinggi untuk memanfaatkan kerjasama ini.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X