Kompas.com - 28/02/2014, 11:35 WIB
Fiki Ferianto, mahasiswa Administrasi Negara di Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah, mengaku hanya tekad yang bulat bisa membuat dirinya mewujudkan mimpi melanjutkan pendidikan. Dok KemendikbudFiki Ferianto, mahasiswa Administrasi Negara di Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah, mengaku hanya tekad yang bulat bisa membuat dirinya mewujudkan mimpi melanjutkan pendidikan.
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com — Program beasiswa Bidikmisi memang baru digulirkan pada 2010. Adagium "orang miskin dilarang kuliah" pun diharapkan berubah menjadi "orang miskin silakan kuliah, gratis dan diberi uang saku atau biaya hidup".

Lebih dari seribu mahasiswa berprestasi dari keluarga tidak mampu yang menerima Bidikmisi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berkumpul selama tiga hari di Jakarta, sejak Rabu (26/2/2014) hingga Jumat (28/2/2014). Selain silaturahim, para mahasiswa berpretasi itu dijadwalkan membuat forum komunikasi di antara mereka. Kepada Kompas.com, tiga diantara mahasiswa itu mengungkapkan pendapatnya menerima manfaat Bidikmisi tersebut.

Amalia Anjani, mahasiswi Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, mengaku selalu percaya bahwa pendidikan merupakan jalan terbaik memutus rantai kemiskinan. Berbagai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan banyak ditawarkan kepada orang-orang yang memiliki tekad melanjutkan pendidikannya.

"Saya menilai program Bidikmisi ini berbeda dengan tawaran beasiswa lainnya. Bukan hanya dana pendidikan selama empat tahun yang diberikan, dana untuk kebutuhan hidup sehari-hari pun akan didapat," ujar Amalia.

Dok Kemendikbud Amalia Anjani, mahasiswi Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur, mengaku selalu percaya bahwa pendidikan merupakan jalan terbaik memutus rantai kemiskinan.
Sementara itu, Fiki Ferianto, mahasiswa Administrasi Negara Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah, mengaku hanya tekad bulat yang bisa membuat dirinya mewujudkan mimpi melanjutkan pendidikan. Sebagai anak petani, dia hanya punya semangat tinggi dan usaha keras untuk mengejar impian itu. 

"Ini seperti mimpi. Bisa merasakan manfaat menimba ilmu di pendidikan tinggi. Saat orientasi mahasiswa baru, saya menitikkan air mata. Saya bersyukur. Pemerintah ternyata masih melihat saya, orang yang tak punya dan berada di daerah terpencil," ucap Fiki.

Fiki mengatakan, pelajar Indonesia jangan pernah berhenti berjuang untuk meraih pendidikan. Ia percaya, usaha keras akan mengantarkan generasi muda yang penuh semangat untuk bisa meraih mimpinya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kita kan hanya bisa berusaha. Selebihnya, serahkan kepada Tuhan. Ingatlah, kesuksesan bukan hanya milik mereka yang berlimpah harta dan berkuasa, tapi milik kita semua," katanya.

Senada dengan Fiki, Siti Horiah, mahasiswa Fakultas Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada (UGM), mengaku tak hentinya bersyukur menerima beasiswa Bidikmisi. Masa depannya sudah di depan mata.

"Awalnya, para tetangga saya meledek dan menghina kedua orangtua saya. Menurut mereka, saya begitu tidak tahu diri. Bagaimana mungkin anak tidak mampu seperti saya menjadi mahasiswa. Dari mana uang untuk membiayai biaya pendidikan di perguruan tinggi ini saya dapatkan," ujarnya.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.