Mendikbud: Generasi Muda Semakin Banyak Hadapi Tantangan

Kompas.com - 03/03/2014, 12:35 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh saat memberikan sambutan pada pembukaan Global Education Dialogues (GED) di Jakarta, Senin (3/3/2014). Mendikbud mengatakan, banyak tantangan akan dihadapi generasi muda ke depan bukan hanya di bidang ekonomi, melainkan juga di budaya dan politik.
Dok KemendikbudMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh saat memberikan sambutan pada pembukaan Global Education Dialogues (GED) di Jakarta, Senin (3/3/2014). Mendikbud mengatakan, banyak tantangan akan dihadapi generasi muda ke depan bukan hanya di bidang ekonomi, melainkan juga di budaya dan politik.
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan dan keterampilan tinggi dibutuhkan generasi muda agar sukses dalam menanggapi kebutuhan masyarakat global. Indonesia dipandang memiliki keuntungan dengan jumlah orang muda yang cukup banyak.

"Potensi orang muda Indonesia sangat besar dan menjadi peluang untuk mengembangkan kemampuan, tidak hanya ekonomi tapi juga kenegaraan," ujar Menteri Universitas dan IPTEK Inggris, Rt Hon David Willetts, dalam sambutan pembukaan Global Education Dialogues (GED) di Jakarta, Senin (3/3/2014).

Pada kesempatan sama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Mohammad Nuh mengatakan, banyak tantangan akan dihadapi generasi muda ke depan. Tantangan tersebut bukan hanya di bidang ekonomi, melainkan juga di budaya dan politik. Karena itulah, Mendikbud mengatakan, tidak ada salahnya untuk membuka kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan dari negara lain untuk memajukan pendidikan Indonesia demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

"Kami membuka kesempatan kerjasama dengan siapa saja termasuk dengan UK seperti hari ini," ucap Nuh.

GED merupakan acara yang digagas oleh British Council bekerjasama dengan Kementerian Pandidikan dan Kebudayaan RI serta Australia-Indonesia Centre. Konferensi yang dibagi menjadi beberapa panel diskusi ini berlangsung selama satu hari bertempat di Intercontinental Midplaza Hotel Jakarta. Adapun peserta konferensi berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, utusan dari universitas di Indonesia, Australia, Inggris, serta beberapa negara Asia Tenggara. Keseluruhan acara membahas tentang penelitian dan mobilitas pendidikan sebagai pendorong pertumbuhan kesejahteraan.

Konferensi tersebut merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di bidang pendidikan antara Indonesia dan Inggris di London pada Mei 2012. Nota kesepahaman itu berisi bahwa pendidikan, riset dan teknologi merupakan dasar bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan.

Deputy Director Education British Council East Asia, Caroline Chipperfield, menuturkan harapan dari acara hari ini bisa menjadi langkah awal mewadahi orang-orang Indonesia yang ingin mengenyam pendidikan lebih layak.

"Kita bantu mereka untuk lebih sukses, meningkatkan skil, dan berkualitas," katanya.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X