Kompas.com - 03/03/2014, 19:21 WIB
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Djoko Santoso, menerima delegasi Universitas Leiden yang dipimpin oleh Rektor Carel Stolker, Selasa (3/3/2014).  Dok Nuffic Neso Indonesia Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Djoko Santoso, menerima delegasi Universitas Leiden yang dipimpin oleh Rektor Carel Stolker, Selasa (3/3/2014).
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Delegasi Universitas Leiden yang dipimpin oleh Rektor Carel Stolker mengunjungi Indonesia. Kunjungan tersebut untuk mengembangkan hubungan lama dan untuk mencari peluang kolaborasi baru dengan universitas, lembaga penelitian, dan organisasi pemerintah.

Pada kunjungan kali ini, Leiden menandatangani perjanjian baru dengan Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Leiden dan UI akan memfasilitasi pertukaran pelajar di bidang humaniora. Fakultas Kedokteran dari kedua universitas juga sepakat memperpanjang kerjasama dan pertukaran pelajar mereka di bidang parasitologi dan bersama-sama bekerja pada pembentukan Center of Excellence pada kanker serviks.

Adapun UGM dan Leiden menandatangani MoU untuk memperpanjang peluang bagi pertukaran mahasiswa dan bekerja sama dalam program double degree PhD di bidang sejarah. Kedua pihak sepakat, pembentukan program gelar ganda lebih lanjut akan segera dieksplorasi.

Selain itu, delegasi Leiden juga berkunjung ke LIPI dan melakukan pertemuan dengan Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan ke Bogor. Pertemuan ini dilakukan untuk menggagas rencana perayaan bersama berdirinya Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Leiden. Pada 2017 mendatang, Kebun Raya Bogor akan merayakan ulang tahun ke-200, sementara Kebun Raya Leiden akan merayakan ulang tahun ke-425. Caspar Reinwardt, pendiri kebun raya Bogor, juga seorang profesor dan direktur kebun raya di Universitas Leiden.

"Kami akan melakukan kemitraan erat dengan rekan-rekan di Indonesia. Selain itu, kami juga akan melakukan digitalisasi pada proyek-proyek ini sehingga materi yang tersedia dapat dinikmati oleh para sarjana di seluruh dunia," ujar Rektor Universitas Leiden, Carel Stolker, dalam siaran pers di Jakarta, Senin (3/3/2014).

Stolker mengatakan, Leiden telah memiliki hubungan panjang dan khusus dengan Indonesia. Oleh karena, ia berharap untuk masa yang akan datang hubungan ini akan lebih erat dan bermanfaat. 

Sebelumnya, delegasi universitas tertua di Belanda ini telah melakukan upaya membangun hubungan dengan pemerintah Indonesia. Pada Selasa (25/3/2014) lalu, Stolker dan Duta Besar Belanda bertemu dengan Wakil Presiden RI Boediono. Rektor mengundang Wakil Presiden untuk memberikan kuliah umum di Leiden pada 26 Maret 2014 mendatang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, pada kunjungannya ke Yogyakarta, delegasi Leiden menggelar pertemuan dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X di keratonnya. Sultan menyarankan Leiden untuk terlibat dalam pelatihan pejabat pemerintah dan hal ini akan lebih dieksplorasi lebih lanjut.

Pada saat bersamaan, Rektor Leiden menyerahkan Diploma khusus untuk ayahnya, Hamengku Buwono IX, kepada Sultan dan keluarganya. Seperti diketahui, Hamengkubowono IX belajar di Leiden antara 1936 dan 1939. Tetapi, sebelum menyelesaikan studinya, ia dipanggil kembali ke Yogyakarta.

Pusat penelitian

Baru-baru ini, perpustakaan Universitas Leiden telah menjadi penanggung jawab atas koleksi buku-buku dari Royal Netherlands Institute of Southeast Asian Studies dan Karibia (KITLV) dan Royal Tropical Institute (KIT). Dikombinasikan dengan koleksi milik Leiden sendiri, ini berarti tercipta pusat penelitian terbesar mengenai Indonesia di dunia.

Lebih dari 10 kilometer arsip yang terdiri dari buku-buku, jurnal, peta dan manuskrip, akan menjadi bagian dari perpustakaan Asian masa depan di Universitas Leiden. Sejak 1969, sebagian besar buku-buku dan jurnal ini dibeli oleh KITLV yang berkantor di Jakarta.

"Kami mengakui, ini tanggung jawab khusus Leiden untuk terus mengembangkan perpustakaan untuk studi Bahasa Indonesia," kata Stolker.

Sebetulnya, terkait hubungan sejarah dan budaya, hubungan antar universitas dari kedua negara juga dekat. Pusat Pendidikan Belanda (Nuffic Neso Indonesia) memfasilitasi kerjasama ini dari kantor di Jakarta.

Direktur Nuffic Neso Indonesia, Mervin Bakker, pihaknya senang melihat sebuah universitas Belanda terkemuka seperti Leiden berusaha untuk memperkuat hubungan dengan mitra akademik dan non-akademik di Indonesia. Hal itu sangat berperan penting, mengingat perguruan tinggi di Indonesia saat ini sedang fokus pada internasionalisasi pendidikan tinggi.

"Kehadiran Leiden adalah contoh lain dari meningkatnya minat universitas Belanda dalam memperluas kerjasama di Indonesia," ujar Mervin.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.