Kompas.com - 29/04/2014, 14:54 WIB
Siswa SDN 40 Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, bermain saat acara Trakindo Mengajar atau Volunteer Day berlangsung pada Sabtu (26/4/2014). Khusus untuk pendampingan guru dan murid, Trakindo menargetkan 40 SDN dari Aceh hingga Papua sejak 2010 sampai dengan 2015. Pendampingan ini berlangsung tiga tahap. Tahap pertama, pendampingan pada 10 sekolah mulai 2010. Tahap kedua, pendampingan pada 15 sekolah sejak 2011. Tahap ketiga, pendampingan pada 15 sekolah sejak 2012.

JosephusSiswa SDN 40 Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, bermain saat acara Trakindo Mengajar atau Volunteer Day berlangsung pada Sabtu (26/4/2014). Khusus untuk pendampingan guru dan murid, Trakindo menargetkan 40 SDN dari Aceh hingga Papua sejak 2010 sampai dengan 2015. Pendampingan ini berlangsung tiga tahap. Tahap pertama, pendampingan pada 10 sekolah mulai 2010. Tahap kedua, pendampingan pada 15 sekolah sejak 2011. Tahap ketiga, pendampingan pada 15 sekolah sejak 2012.
EditorJosephus Primus
PELUH masih membasahi pelipis Haikal. Tapi, siswa kelas 3 Sekolah Dasar Negeri (SDN) 40 Pangkalpinang di kawasan Kacang Pedang, Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel) tetap antusias mengikuti sesi singkat pelajaran tentang gizi. Hari itu, Sabtu (26/4/2014), PT Trakindo Utama menggelar acara Trakindo Mengajar atau Volunteer Day  bagi para karyawannya di sekolah tersebut.

Haikal, bocah berbadan gemuk itu memang baru saja mengikuti permainan bersama di lapangan sekolah. Matahari bersinar terik meski hari masih pagi, pukul 08.30. Lapangan SDN 40 memang belum lama diperbaiki, terkait program tersebut. Lapangan itu kini menjadi datar. Balok-balok bata membentuk paving block tersusun rapi.

Pelajaran mengenai gizi berlangsung di dalam kelas. Suasananya riuh. Haikal dan kawan-kawannya tampak gembira mengikuti sesi pelajaran yang diramu dengan nyanyian yel-yel hingga tanya-jawab penuh canda. "Saya tahu makanan panda. Pandan kan?" kata Haikal lantang disambut gemuruh tawa teman-temannya.

Siswa sekolah sepantaran Haikal memang membutuhkan asupan gizi yang seimbang. Yang juga paling penting adalah asupan sayuran dan buah-buahan. Makanya, analogi sederhana soal gajah dan panda yang berbadan besar karena suka makan sayur, bisa jadi menambah semangat Haikal dan kawan-kawannya mengonsumsi makanan dan minuman sehat.

Sementara, temuan yang juga unik dari pelajaran singkat 30 menit itu adalah soal kebiasaan jajan. Menurut pengakuan para siswa, makanan berbungkus plastik kian marak mereka jumpai. "Lontong di sini dibungkus plastik," kata Maudi, teman Haikal.

Lagi-lagi, mendengar komentar Maudi, siswa diajak untuk lebih memperhatikan soal kebersihan makanan sekaligus kepedulian pada penggunaan kemasan makanan dari pembungukus alami semisal daun pisang. Lepas dari itu semua, semangat siswa tetap terlihat bernyala. "Itulah mereka, tetap bersemangat," kata Manajer Cabang Trakindo Babel Azar Gautama yang juga aktif mendampingi siswa.

Selepas sesi tentang gizi, total 189 siswa SDN 40 dari berbagai kelas mengikuti sesi soal kesehatan gigi. Para siswa juga berkesempatan menyantap bubur kacang hijau. Mereka pun masing-masing mendapat bingkisan berisi antara lain buku dan alat tulis.

Josephus Primus Siswa SDN 40 Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, praktik menyikat gigi di sela-sela acara Trakindo Mengajar pada Sabtu (26/4/2014). Di samping program tanggung jawab perusahaan (CSR) pembinaan karakter murid untuk tingkat sekolah dasar sejak 2010, Trakindo juga menghelat kerja sama (COOP) dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan politeknik sejak 1996. Pada COOP, fokus kerja sama membidik pembentukan tenaga kerja ahli siap kerja serta membantu pengembangan tenaga kerja pengajar dalam aspek-aspek industrial tertentu. Trakindo juga terlibat dalam perancangan kurikulum Program Studi Alat Barat untuk SMK dan politeknik.


Catur

Pada bagian selanjut, seturut penuturan Kepala Sekolah SDN 40 Marlaili, tiga tahun silam, sekolah yang terletak di tanah seluas 200 meter persegi tersebut acap menjadi pembicaraan kurang baik. Pasalnya, saat hujan, halaman sekolah selalu terlanda banjir. Bangunan sekolah pun terlihat kumuh. Belum ada penggantian atap ruang sekolah. Cat dinding sekolah pun terkelupas di sana-sini.

Renovasi bertahap sampai dengan tahun ini membuat SDN 40 kini memunyai lima ruang kelas lebih baik dan nyaman buat para siswa. Sekolah itu pun sekarang memunyai jamban tersendiri yang dibangun agak terpisah dari ruang-ruang belajar. "Kami sudah memulai penghijauan di sekeliling sekolah dengan menanam pohon-pohon," kata Marlaili.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X