Kita "Melupakan" Ki Hajar Dewantara dalam Konsep Pendidikan Modern

Kompas.com - 05/05/2014, 11:34 WIB
Kenapa hampir tidak ada universitas di Indonesia yang mensyaratkan motivation statement sebagai salah satu syarat utama dalam sistem seleksi, dan hanya mengedepankan sistem tes www.shutterstock.comKenapa hampir tidak ada universitas di Indonesia yang mensyaratkan motivation statement sebagai salah satu syarat utama dalam sistem seleksi, dan hanya mengedepankan sistem tes "cap, cip, cup" yang hanya melihat (lagi-lagi) dari sisi kognitif semata?
EditorLatief

Itulah yang terjadi. Orangtua tidak kritis bertanya nilai tambah dari adanya unsur institusi luar tersebut terhadap program dan output yang diharapkan. Padahal, internalisation dari sebuah institusi pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, punya banyak sekali elemen, bukan hanya hal-hal yang dapat dilihat kasatmata (kognitif) berupa bahasa pengantar, jumlah mahasiswa internasional, jumlah pengajar internasional, materi pendidikan, fasilitas untuk mahasiswa internasional, misalnya student housing, melainkan juga dinamika dan interaksi internasional yang terjadi dalam proses belajar mengajar. Internasionalization is a state of mind rasa!

Keunggulan kompetitif

Jadi, konsep yang dibawa oleh Bapak Pendidikan Nasional kita itu sebenarnya merupakan konsep pendidikan luar biasa, sangat mumpuni, dan komprehensif. Lalu, mengapa semua itu justru kita tinggalkan, dan malah sibuk mengembangkan konsep baru atau menggadang-gadang konsep-konsep dari luar yang seakan-akan lebih canggih, padahal mungkin justru berakar dari konsep Ki Hajar Dewantara ini?

Pendidikan bukan tanggung jawab pemerintah semata, tapi juga orangtua, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan adalah tanggung jawab kita. Hanya dengan pendidikan, keunggulan kompetitif suatu bangsa dapat dicapai.

Maka, mari kita lebih peduli dan kritis terhadap pendidikan nasional (diknas) kita. Mari kita uji calon-calon pimpinan nasional kita dengan isu-isu seputar pendidikan nasional yang bukan cuma membahas dana "diknas", tapi juga konsep "diknas" yang komprehensif, yang sebetulnya sudah disemai sejak dahulu kala oleh Ki Hajar Dewantara. Marilah kita kembali ke konsep yang berakar dari budaya, nilai, dan keluhuran bangsa ini.

Selamat Hari Pendidikan Nasional! Mari menciptakan Indonesia yang lebih terdidik. Seperti kata Ki Hajar Dewantara, "Lawan Sastra Ngesti Mulya, dengan ilmu kita menuju kemuliaan!". 

(Penulis adalah praktisi dan pengamat pendidikan yang kini bergiat sebagai koordinator tim beasiswa di Netherlands Education Support Office/NESO). Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.