Kompas.com - 16/09/2014, 07:30 WIB
Kuburan massal korban tsunami dibersihkan jelang sembilan tahun peringatan gempa dan tsunami Aceh, Selasa (24/12/2013). KOMPAS TV/Raja UmarKuburan massal korban tsunami dibersihkan jelang sembilan tahun peringatan gempa dan tsunami Aceh, Selasa (24/12/2013).
Penulis Latief
|
EditorLatief
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia memiliki setidaknya 13 tipe bencana, baik bencana yang datang dari alam maupun dari hasil perbuatan manusia. Bencana tersebut diantaranya, banjir, erupsi gunung api, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, kekeringan, hingga kebakaran hutan.

Tiap kali bencana itu muncul, bisa memberikan dampak ekonomi cukup besar salah satunya dari sektor industri pariwisata. Sektor ini sangat rentan.

"Sangat rentan terhadap persepsi publik, karena alasan keselamatan dan kesehatan sehingga membutuhkan strategi untuk mengurangi dampak risiko yang ditimbulkan," kata Direktur Magister Studi Manajemen Bencana, Sekolah Pascasarjana UGM, Prof Sudibyakto, dalam konferensi internasional pengelolaan pariwisata di tengah ancaman risiko bencana, Senin (15/9/2014), di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dia mengatakan, meski pemerintah telah membentuk badan khusus menangani penanggulangan bencana baik di tingkat pusat dan daerah, antisipasi dan mitigasi bencana untuk daerah yang menjadi tujuan wisata dinilai masih sangat kurang. Padahal, menurut Sudibyakto, industri pariwisata di beberapa daerah saat ini menjadi salah satu sumber pendapatan dan penghasil devisa terutama bagi daerah yang minim sumber daya alam seperti di Yogyakarta dan Bali.

Untuk mengurangi dampak kekhawatiran pengunjung terhadap ancaman risiko bencana, Sudibyakto menegaskan upaya melakukan penilaian risiko dan pemasangan sistem peringatan dini risiko bencana menjadi sebuah keharusan. Hal itu bisa dilakukan oleh pemerintah, masyarakat lokal  dan pelaku industri pariwisata.

"Ini jauh lebih efektif ketimbang hanya mengandalkan proses pemulihan pasca bencana," ujarnya.

Dia mengatakan, bencana gempa dan tsunami di Aceh  tahun 2004 dan gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 2006 menjadi pelajaran penting tentang manajemen penanggulangan bencana. Keduanya menjadi bukti bahwa masyarakat membutuhkan strategi pengurangan risiko bencana.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota dari University of Hawaii, Amerika Serikat, Dolores Foley, mengatakan selama satu dekade terakhir ini sejumlah bencana memberikan dampak sangat buruk bagi daerah yang memiliki tujuan wisata pesisir. Dia menyebutkan, di Indonesia ada 28 wilayah rawan terkena gempa dan tsunami, termasuk daerah yang menjadi favorit tujuan wisata seperti Bali, NTB dan NTT. Bali pun termasuk rawan terkena gempa karena berada di posisi cincin api pasifik.

"Bali termasuk daerah berisiko kena tsunami tinggi dengan pantai dataran rendah, tapi untungnya dilindungi oleh pulau Jawa dan Sumatera dari kejadian tsunami di samudera Hindia tahun 2004,” ujarnya.

Seperti diketahui, wilayah lain yang berisiko terkena gempa dan tsunami tersebut diantaranya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak, Yapen, Fak-fak, dan Balikpapan.

Dia menambahkan, daerah yang memiliki risiko terkena bencana menurutnya membutuhkan sebuah hasil penelitian dalam memberikan informasi yang tepat dalam mengantisipasi dampak bencana yang kemungkinan suatu saat bisa saja muncul. Komunikasi yang efektif, perencanaan, dan kemitraan antara masyarakat dan pengelola pariwisata sangat dibutuhkan.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.