Kota Beijing Pikat Calon Siswa dari Indonesia

Kompas.com - 15/11/2014, 15:18 WIB
Siswa mencermati informasi pendidikan di Fang Cao Di International School Beijing pada Pameran Pendidikan di Beijing, Sabtu (15/11/2014). Josephus PrimusSiswa mencermati informasi pendidikan di Fang Cao Di International School Beijing pada Pameran Pendidikan di Beijing, Sabtu (15/11/2014).
EditorJosephus Primus


KOMPAS.com - Darmadi mengaku masih mencari  banyak informasi tentang perkuliahan di Beijing, ibu kota Tiongkok. Ia datang bersama dengan teman-teman kelas XII di SMU Candra Naya, kawasan Jembatan Besi, Jakarta Barat, hari ini, Sabtu (15/11/2014), ke Pameran Pendidikan Beijing di kawasan Gelora Bung Karno (GBK). Pameran itu merupakan kerja sama antara Komisi Pendidikan Kota Beijing dengan Chinalink Institute.

Darmadi, remaja berperawakan kurus itu menaruh minat pada bidang desain interior. Dalam pengamatannya, ada perbedaan pendidikan tinggi bidang desain interior di Tanah Air dengan di Beijing. "Di Indonesia, desain interior terpisah dengan jurusan desain lain. Di Beijing, desain interior, teknik sipil, dan arsitektur jadi satu," katanya.

Beijing, sebagaimana penuturan Presiden Direktur Chinalink Institute Linda Li saat pameran mengatakan memang makin menjadi tujuan pendidikan tak hanya di seluruh negeri. Dalam catatannya, ada sekitar 40 negara yang siswanya belajar di kota tersebut. "Fasilitas pendidikannya paling lengkap di seluruh negeri," kata perempuan kelahiran Bandung pada 5 April 1974 ini.

Pemerintah Beijing juga menyiapkan beasiswa bagi siswa asing. Untuk siswa Indonesia, imbuh Linda Li yang kini menetap di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) Jakarta Utara, rata-rata jumlah beasiswa per orang per tahun mencapai angka Rp 50 juta hingga Rp 100 juta. Dana itu sudah lengkap dengan biaya sekolah dan biaya hidup sehari-hari.

Linda menambahkan, sedikitnya ada 14.000 siswa Indonesia yang belajar di Tiongkok. "Dari jumlah itu, 60 persennya belajar di Beijing," kata Linda.

Sebagai kota budaya, Beijing yang luasnya enam kali ketimbang Jakarta, memang dipersiapkan oleh pemerintah Tiongkok umumnya, dan lokal pada khususnya sebagai destinasi pendidikan. Tiongkok yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonominya dengan reputasi baik perlahan tapi pasti menjadikan Beijing sebagai kiblat pendidikan.  "Pemerintah Beijing memang mengutamakan pendidikan," kata Linda yang punya hobi mengoleksi prangko itu.

Primus Menurut Presiden Direktur Chinalink Institute Linda Li, fasilitas pendidikan di Beijing paling lengkap di Tiongkok. Beijing yang luasnya enam kali dari Jakarta juga menjadi pusat budaya.

Linda yang sempat mengenyam pendidikan di Beijing Language and Culture University sejak 1997 hingga 2003 untuk selanjutnya menetap sekitar lima tahun di Beijing mengisahkan bahwa perpustakaan di kampus-kampus di situ selalu penuh. Mahasiswa antre untuk mendapatkan tempat belajar.

Ia melanjutkan, di setiap kampus, selalu ada taman-taman yang luas. "Di taman-taman itu pula, siswa belajar," kata Linda, penikmat musik klasik ini.

Fasilitas yang juga tersedia di kampus-kampus di Beijing adalah asrama mahasiswa. Selain itu, ada lokasi perbelanjaan. "Tempat potong rambut pun ada," kata Linda sembari tertawa.

Jika dibandingkan, setiap kampus di Beijing, berada di kawasan seluas 300 hektare. "Itu kira-kira seluas UI (Universitas Indonesia di Depok)," kata Linda yang lulus dari Fakultas Teknik Industri Universitas Trisakti, Jakarta ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X