Kompas.com - 05/12/2014, 08:56 WIB
Mendikbud menjelaskan 75 persen sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan. M Latief/KOMPAS.comMendikbud menjelaskan 75 persen sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan.
EditorSandro Gatra


Oleh:

KOMPAS.com - Riwayat perubahan kurikulum di Indonesia sudah setua negeri ini. Tak lebih lama dari dua tahun sejak Kemerdekaan RI diproklamasikan, pemerintah mengungkapkan yang pada waktu itu disebut sebagai Leer Plan (Rentjana Pelajaran) 1947.

Sejak itu, sebelum sampai pada Kurikulum 2013, Indonesia telah melewati beberapa penyempurnaan dan penggantian kurikulum. Ada Rentjana Pelajaran Terurai 1957, Rentjana Pendidikan 1964, Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum 2004 alias Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan Kurikulum 2006 yang dikenal sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Berarti selama hampir 60 tahun kemerdekaan, pendidikan di Indonesia telah mengalami 10 jenis kurikulum. Tentu dengan tingkat perubahan atau penyempurnaan yang berbeda-beda.

Mungkin karena alasan inilah muncul ungkapan ”ganti menteri, ganti kurikulum”. Sebenarnya pergantian kurikulum bukanlah sesuatu yang haram. Bahkan terkadang niscaya. Karena tantangan kehidupan selalu berubah, bahkan makin cepat, sementara teori-teori dan temuan-temuan baru di bidang pemikiran pendidikan juga terus berlangsung. Persoalannya lebih terletak pada ketepatan arah perubahan kurikulum. Tak kalah penting: implementasinya! Sebab, sebaik apa pun kurikulum, dia tak akan membawa hasil seperti yang diharapkan jika pelaksanaannya tidak beres.

Maka, dalam mengevaluasi Kurikulum 2013, penting bagi kita untuk lebih dulu membaginya ke dalam dua aspek. Pertama, aspek substansi kurikulum itu dan, kedua, implementasinya.

Sebelum membahas masalah ini lebih jauh, harus saya katakan bahwa—dalam hal implementasi—Kurikulum 2013 sangat jauh dari harapan. Masa penulisan buku pendukung bisa dibilang terburu-buru dan tanpa standar penulisan yang jelas, pelatihan guru yang tidak dipersiapkan dengan baik, dan distribusi buku yang mengalami kendala di mana-mana. Khusus mengenai pelatihan guru, terasa sekali kurangnya koordinasi antara pusat dan daerah, serta peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, panduan teknis, dan modul pelatihan kurang sinkron. Juga sering dijumpai perbedaan pemahaman (dan kemampuan) narasumber atau instruktur nasional yang berakibat pada kerancuan pemahaman.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lemah dan tak lengkap

Filosofi kurikulumnya sendiri, sebagaimana terungkap dalam Naskah Akademik Kurikulum 2013, adalah pengembangan dari KTSP (termasuk kecakupan dan sequence, yang dilengkapi bahan standar TIMSS dan PISA). Pengembangan yang dilakukan mencakup beragam terobosan penting, yang memang amat dibutuhkan. Termasuk di dalamnya pengurangan mata pelajaran, pengakomodasian minat siswa (SMA) melalui sistem lintas minat dan pendalaman minat, penekanan sikap moral dan spiritual (pendidikan karakter), pendekatan kecerdasan majemuk, penerapan pembelajaran berbasis problem dan project, penekanan pada pendekatan saintifik, adopsi metode tematis terpadu (khusus SD), penerapan penilaian otentik, serta perubahan desain buku rapor yang menambahkan capaian dan deskripsi.

Sayangnya lagi, sejak penjabaran filosofi kurikulum ini ke dalam panduan penyusunan kurikulum, kita sudah dihadapkan pada sejumlah kelemahan dan ketaklengkapan. Di antara kelemahan-kelemahan tersebut adalah: pemaksaan masuk aspek sikap spiritual dan sosial ke dalam bahan ajar yang tak sesuai akibat pendesakannya dalam setiap Kompetensi Dasar (KD), terlalu banyak jumlah dan komponen KD sehingga terasa waktu belajar tidak mencukupi; serta terlalu banyak instrumen dalam sistem penilaian dan rumitnya pekerjaan pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sehingga terlalu banyak menyita waktu dan energi guru.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.