Kompas.com - 05/12/2014, 16:42 WIB
Titah Putri Firdausi, pendidik di SMP Negeri 2 Asologaima, Kabupaten Jaya Wijaya, Papua. Dok KemendikbudTitah Putri Firdausi, pendidik di SMP Negeri 2 Asologaima, Kabupaten Jaya Wijaya, Papua.
EditorLatief
KOMPAS.com - Setahun bertugas sebagai seorang pendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan. Apalagi jika daerah tersebut adalah daerah konflik atau yang disebut sebagai zona merah.

Hal tersebut diungkapkan Titah Putri Firdausi, pendidik di SMP Negeri 2 Asologaima, Kabupaten Jaya Wijaya, Papua. Titah adalah peserta program Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM3T) lulusan Universitas Negeri Malang (UM).

Titah menuturkan, dia mengaku harus berjuang menghindar jika mendadak terjadi kontak senjata antara pasukan TNI dan kelompok separatis yang sering terjadi di daerah berbatasan dengan Kabupaten Lanny Jaya itu. Di zona merah seperti itu, menurut Titah, masyarakat kurang konsisten mendorong anaknya untuk bersekolah.

"Karena itu, edukasi kepada orang tua sangat diperlukan agar sadar pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka," ujar Titah.

Titah menuturkan, dia sering melakukan pendekatan dengan terjun ke sawah dan kebun untuk menyapa dan berbincang tentang pendidikan dengan orang tua. Untuk keperluan pendekatan personal seperti itu, dia belajar keras menggunakan logat penduduk setempat supaya bisa ‘nyambung’ dengan mereka.

"Kesadaran mereka tentang pendidikan masih kurang sekali. Kehidupan di sana lebih mengutamakan berkebun daripada sekolah," katanya.

Titah mengatakan, kurangnya kepedulian orang tua terhadap pendidikan berimbas pada kemampuan anak-anak didiknya terhadap kemampuan membaca. Meski mengajar di tingkat SMP, namun Titah menemukan sejumlah siswa masih belum mampu baca, tulis, dan berhitung, dengan baik.

"Maka itulah dibuat kelas percobaan untuk membantu siswa-siswa ini," ujarnya.

Titah dan teman sesama guru SM3T harus memulai tugasnya dari kelas percobaan ini. Jika sudah ada kemajuan dan mereka sudah mulai bisa membaca, baru kelas reguler dilaksanakan.

Selama mengabdikan diri sebagai sarjana mendidik, hal paling membahagiakan bagi Titah adalah ketika anak-anak didiknya berhasil lulus ujian. Tak hanya dirinya, anak-anak itu pun akan menangis terharu di pelukannya. Hal itu, lanjut dia, karena mereka memiliki guru yang mendidik dan mendorong mereka sehingga mereka memiliki kemampuan untuk melewati ujian tersebut dengan baik.

"Mereka sangat bahagia dan berterima kasih kasih kepada guru-gurunya, karena bisa lulus dengan usaha sendiri. Bukan dengan kata, melainkan dengan tangisan dan pelukan. Hal itu benar-benar mengharukan,” kenang Titah. (ALINE) Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.