Kompas.com - 10/12/2014, 13:38 WIB
Ilustrasi Kurikulum 2013 KompasIlustrasi Kurikulum 2013
|
EditorHindra Liauw
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengalaman baru dihadapi para murid ketika mulai menjajaki Kurikulum 2013 yang menggantikan Kurikulum 2006. Melalui kurikulum baru itu, murid dituntut untuk lebih aktif di kelas dibandingkan dengan guru. Khusus wilayah Jakarta Selatan, hampir seluruh sekolah telah menerapkan Kurikulum 2013.

Ada beberapa perbedaan yang dialami oleh murid pada kurikulum baru dengan yang lama. Di antaranya, jam sekolah yang lebih lama dan juga pola belajar dengan metode diskusi. Yudi, Wakil Kepala Sekolah SMK Putra Satria di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, mengakui adanya keluhan dari siswanya mengenai pola baru di Kurikulum 2013.

"Misalnya buku yang lebih tebal, lalu kok banyak tugasnya di kurikulum ini. Karena setiap kali guru memang harus membuat tugas. (Tapi) keluhan biasa," kata Yudi, saat ditemui di acara workshop mengenai tawuran pelajar, di kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Rabu (10/12/2014).

Peserta didik, lanjutnya, dituntut untuk lebih aktif. Dalam kurikulum lama, guru lebih banyak berbicara. Kini, murid yang lebih banyak bicara. Menurut Yudi, pola belajar siswanya kini bermodel diskusi dengan membentuk kelompok di kelas. Siswa nanti maju untuk berbicara atau presentasi di depan kelas. Hanya saja, untuk mata pelajaran matematika, pola diskusi menjadi rumit.

"Murid nanya kalau matematika gimana diskusi Pak? Memang tidak bisa untuk diskusi," ujar Yudi.

Selain itu, pada kurikulum ini, sebut Yudi, jam belajar siswa menjadi bertambah dua jam. Jam belajar di sekolah, yang sebelumnya berakhir pukul 12.30, menjadi pukul 14.30.

Sementara itu, Sabari, Kepala Sekolah SMK PGRI 14 di Jakarta Selatan mengatakan, kurikulum baru belum berjalan maksimal lantaran perilaku belajar siswa. Di sekolahnya, ia menyatakan minat baca murid-muridnya masih rendah. Padahal, murid dituntut untuk menguasai materi.

"Saya perhatikan kayaknya daya juang yang masih rendah, jadi minat bacanya rendah. Walaupun sudah ada buku. Kalau anak ini daya juang rendah, enggak mikirin. Cuek aja. Jadi cuma cari sertifikat, enggak cari ilmu," ujar Sabari.

Meski demikian, baik Yudi dan Sabari menyatakan, Kurikulum 2013 amat baik untuk anak. Cara belajarnya membuat murid untuk lebih aktif.

"Metode bagus, anak memang ditugaskan untuk mencari tahu," kata Yudi. "Ini memang sebenarnya bagus. Sekarang kan bukan guru ceramah. Tapi anak harus diaktifkan," ujar Sabari.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X