Kompas.com - 19/12/2014, 20:35 WIB
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Produsen energi nonfosil, Bionas Energi Indonesia (BEI) menggandeng Universitas Negeri Makassar (UNM) untuk mengembangkan teknologi biofuel untuk mengurangi pemakaian energi tak tergantikan seperti minyak bumi. UNM akan membantu melakukan riset penggunaan produk yang dihasilkan dalam berbagai bidang.

"Kita akan lakukan pengujian dulu untuk mengecek berapa ketahanan mesinnya dan efeknya terhadap pencemaran. Kita bergerak di sektor teknologi tepat guna dan sangat mungkin Bionas ini diterapkan disana," kata Rektor Universitas Negeri Makassar, Arismunandar, usai penandatangan kerjasama (MoU) antara BEI dan UNM di Jakarta, Kamis (18/12/2014).

Hadir pada penandatanganan tersebut Zurina Amnan, CEO Bionas Group, Dato Sri Mohmmad Jafri, Executive Chairman Bionas Group, serta Pembantu Rektor UNM Nurdin Nonik. UNM sepakat menyediakan sumber daya manusia (SDM) untuk diberi pelatihan mengenai proses pembuatan sumber energi ramah lingkungan.

"Kapal nelayan, sepeda motor dan mesin industri di Makassar akan menjadi target utama uji coba," papar Aris.

Bionas sendiri saat ini telah berhasil memadukan kemajuan teknologi nano yang diterapkan pada additif, nano-emulsion dan polarization menggunakan bahan dasar dari tanaman jarak. Perpaduan tersebut diyakini dapat memangkas biaya tarif dasar listrik hingga 20 persen.

Tak hanya itu. CEO BEI, Hendry Widjaya, perpaduan tersebut bisa menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah alat transportasi darat, udara dan laut bermesin diesel dan premium. Penghematan itu bisa mencapai 20 persen.

"Teknologi ini ramah lingkungan karena buah atau biji jarak dan air menjadi salah satu komponen utama di dalamnya. Teknologi nano emulsi dan polarisasi ini untuk menghemat bahan bakar fosil," kata Hendry. 

Bionas sendiri, lanjut Hendry, meyakini melalui berbagai riset dan pengembangan terbaru, energi alternatif akan bisa diterima masyarakat secara luas. Salah satu produk yang dihasilkan dari teknologi Nano Emulsi dan Polarisasi adalah Bionas M30, terdiri dari 70 persen bahan bakar minyak dan 30 persen bahan bakar tanaman Jarak. M30 diklaim lebih irit, ramah lingkungan dan masa pembakaran lebih lama.

Dia mengakui, energi alternatif dari tanaman jarak (jatropa) bukan hal baru di dunia, termasuk di Indonesia. Namun, melalui berbagai riset dan pengembangan terbaru, pihaknya yakin energi alternatif akan bisa diterima masyarakat secara luas.

"Empat tahun lalu kita sebenarnya sudah mulai di Indonesia. Kita punya lahan pertanian jarak yang cukup bersama petani lokal. Investasi fokus di base production, transfer teknologi dan pelatihan-pelatihan," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.