Kompas.com - 24/01/2015, 20:37 WIB
Karyawan memeriksa kandang burung hantu di kebun inti kelapa sawit milik Asian Agri, di Kabupaten Siak, Riau, beberapa waktu lalu. RODERICK ADRIAN MOZESKaryawan memeriksa kandang burung hantu di kebun inti kelapa sawit milik Asian Agri, di Kabupaten Siak, Riau, beberapa waktu lalu.
Penulis Latief
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Kebutuhan tenaga kerja terampil perkebunan kelapa sawit di Indonesia semakin besar sehingga dibutuhkan lebih banyak lagi tenaga kerja terdidik. Cukup banyak perusahaan kelapa sawit memiliki kesulitan menemukan sumber daya manusia terampil dengan kualifikasi khusus bidang perkelapasawitan.

Demikian dikatakan Tjokro Putro Wibowo, Dirut Widya Corporation, Jumat (23/1/2015). Ketua Bidang Organisasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) itu menambahkan, bahwa tingginya kebutuhan tersebut juga seiring target produksi CPO Indonesia sebanyak 40 juta ton pada 2020, termasuk upaya replanting perkebunan, dan regenerasi tenaga kerja, serta persaingan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Selain aspek produksi, perkebunan kelapa sawit sekarang ini juga diharapkan mengedepankan aspek kesinambungannya. Kita sebagai user membutuhkan pasokan SDM yang bagus di bidang kebun, pabrik, dan administrasi," kata Tjokro di Jakarta.

Pada satu dekade terakhir, lanjut Tjokor, konsumsi minyak sawit tumbuh rata-rata sekitar 8 hingga 9 persen per tahun dan diperkirakan akan meningkat seiring tren penggunaan bahan bakar alternatif berbasis minyak nabati atau BBN seperti biodiesel. Indonesia akan semakin dominan ke depan dengan perkembangan tersebut.

"Apalagi perkembangan di Malaysia. Tanpa dukungan SDM berkualitas, kita bakal tertinggal dan
tidak bisa bersaing di pasar internasional," ujarnya.

Pendapat tersebut dibenarkan Direktur Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, Stephanus Nugroho Kristono. Dia mengatakan, kebutuhan tenaga terampil akan tetap tinggi, baik saat ini maupun di masa mendatang. Banyak perusahaan perkebunan kelapa sawit yang senantiasa membutuhkan tenaga terampil yang terdidik.

"Apalagi kampus kami juga memperhatikan azas kesinambungan dalam setiap aspek mata kuliah dan prakteknya," kata Nugraho.

Nugroho mengatakan, penyiapan SDM di bidang kelapa sawit ini menjadi jawaban atas pemenuhan tenaga kerja di era global saat ini. Bahkan, selama ini terbukti banyak perusahaan kelapa sawit di luar negeri yang juga mengambil tenaga kerja terampil dari Indonesia.

"Apalagi kan sudah muncul kesadaran di antara mahasiswa maupun orang tua untuk mencari kampus yang lulusannya siap bekerja. Mereka memilih lebih baik kuliah di kampus yang setelah wisuda bisa langsung bekerja daripada di universitas yang setelah lulus belum tentu terserap di lapangan pekerjaan," kata Nugroho.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.