Kompas.com - 10/03/2015, 23:27 WIB
Nael Sumampow, Anton Tarigan, Agung Indriyanto, serta Olivia adalah para mahasiswa Indonesia di Maastricht University, Maastricht, Belanda. M Latief/KOMPAS.comNael Sumampow, Anton Tarigan, Agung Indriyanto, serta Olivia adalah para mahasiswa Indonesia di Maastricht University, Maastricht, Belanda.
Penulis Latief
|
EditorLatief

Hal serupa juga dialami oleh Anton Tarigan, mahasiswa S-2 di Maastricht School of Management, Kota Maastricht. Dengan kereta, kota ditempuh selama dua jam dari Den Haag.

"Skil memasak itu penting di sini. Di Jakarta dulu boro-boro masak,” kata Anton sembari tertawa.

Ia akui, hidup di Maastricht membuatnya sangat mandiri. Memasak, naik sepeda, mencuci piring, hingga urusan buang sampah pun tertib dan teratur dilakukan sebagai kesehariannya.

"Apapun dilakukan lewat internet, itu kebiasaan orang Belanda dan kami ikuti di sini. Dari urusan cuaca, jadwal kereta, sampai cari toko untuk berbelanja bahan kebutuhan itu semua dilakukan lewat internet,” tuturnya.

Cerita itu diamini oleh Nael Sumampow, dosen psikologi Universitas Indonesia (UI) yang tengah melanjutkan kuliah S-2 di Master Legal Psychology di Maastricht University. Menurut dia, semua yang “tak lazim” dia lakukan di Indonesia, kini dilakukan di Belanda.

"Hidup harus hemat, itu sudah pasti. Beruntungnya, secara ekonomi hidup di sini masih lebih murah dibandingkan di Den Haag atau Amsterdam,” ujarnya.

Adaptasi cepat

Bukan hanya dinamika hidup di keseharian yang membuat para mahasiswa Indonesia sempat mengalami shock. Kultur akademik di kampus pun membuat mereka kerap terkejut dan harus lekas-lekas membiasakan diri.

"Mandiri itu bukan soal makan, minum dan tidur, tapi juga budaya belajar. Di sini semua kita siapkan sendiri, terutama bahan pelajaran. Dosen lebih banyak diskusi, bukan satu arah,” tutur Alvin.

Hal serupa juga dialami oleh Anton. Membaca jurnal dan ujian dalam waktu hanya dua minggu adalah “makanan utama” di awal kuliah.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X