5 Mitos yang Salah tentang Kuliah Sistem "Online Learning" - Kompas.com
Konten ini adalah kerja sama Kompas.com dengan Binus

BrandzView
Konten ini adalah kerja sama Kompas.com dengan Binus

5 Mitos yang Salah tentang Kuliah Sistem "Online Learning"

Kompas.com - 10/04/2015, 12:23 WIB
Dok Binus University/Binus Online Learning Tak ada yang sulit dilakukan dengan metode Binus Online Learning meskipun minim tatap muka. Untuk pertanyaan terkait mata kuliah, misalnya, mahasiswa bisa melontarkannya di Course Room. Khusus pembahasan tugas kelompok, mahasiswa juga akan melakukannya di Team Room.

KOMPAS.com - Banyak orang beranggapan bahwa kuliah online hanya "cara cepat" mendapatkan gelar pendidikan. Terlepas dari manfaat dan kelebihan sistem ini, orang masih enggan mencobanya hanya karena asumsi negatif tersebut.

Memang, model pembelajaran konvensional lebih familiar di benak banyak orang. Hal itu sulit dibantah, mengingat kegiatan belajar-mengajar di jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah juga menggunakan metode yang hampir sama.

Namun, seiring berkembangnya teknologi dan meluasnya kebutuhan pendidikan bagi masyarakat, perguruan tinggi negeri maupun swasta kini sedang berlomba-lomba mengembangkan sistem perkuliahan online dengan kualitas setara perkuliahan konvensional. Jadi, sudah saatnya mitos negatif tentang perkuliahan online dihilangkan, seperti berikut ini:

1. Minim pertemuan, minim kualitas

Sistem perkuliahan online memang mengedepankan self learning dan menuntut time management yang baik dari mahasiswanya. Pilihlah universitas dengan pelayanan Learning Management System (LMS). Di sinilah mahasiswa dapat mengunduh materi pembelajaran dan tugas-tugas kuliahnya secara online.

Selain pertemuan rutin dua kali dalam satu semester, sistem perkuliahan online juga menyediakan forum diskusi terbuka dan personal antara mahasiswa dan dosen atau kelompok belajar dengan dosen sebagai moderator. Bahkan, mahasiswa bisa berdiskusi langsung dengan dosen bersangkutan melalui video conference atau live chat sehigga feedback lebih cepat, bahkan real time.

Pengumpulan tugas juga memiliki tenggat waktu tersendiri sehingga mahasiswa diwajibkan untuk disiplin dengan waktu. Sistem online menuntut kemandirian mahasiswa.

"Apabila mahasiswa itu tidak memiliki niat maupun kedewasaan untuk belajar dan mengerjakan semua tugas, maka akan tertinggal dengan mahasiswa lainnya. Si mahasiswa juga akan lulus lebih lama daripada mahasiswa lainnya," ujar Tubagus Hanafi Soeriaatmadja, Program Director MM Executive BINUS Business School, kepada KOMPAS.com pekan lalu.

Dok Binus University Binus Online Learning merupakan metode pembelajaran yang mulai diterapkan sejak 14 Februari 2009. Metode tersebut diperuntukkan bagi orang yang sudah bekerja, ibu rumah tangga, maupun orang dengan segudang kesibukan sehingga tak punya waktu menjalankan aktifitas perkuliahan di kampus.

2. Mental nyontek

Tak dapat dimungkiri, minimnya pengawasan memicu terjadinya kecurangan. Karena itu, pada sistem kuliah online ujian semester tetap dilakukan di bawah pengawasan learning center milik kampus.

"Kalau sudah dekat waktu ujian, biasanya kita ada dua kuliah terakhir untuk persiapan belajar. Ujiannya juga di kampus, kok. Jadi, no cheating," tutur Adelia Swastika, alumnus Binus Online Learning 2014, ditemui di kantornya di Jakarta, Selasa (7/4/2015).

Pada dasarnya, menurut Adel, perkuliahan model apa pun yang dipilih, mahasiswa harus mulai membiasakan diri untuk jujur. Itu kunci suksesnya kuliah online.

3. Ijazah berbeda

Jangan khawatir! Ijazah dan gelar yang didapatkan setelah menyelesaikan perkuliahan berbasis online learning setara dan sama dengan yang didapatkan melalui perkuliahan konvensional. Jika ragu, silakan mengakses situs universitas yang dipilih atau bertanya langsung ke pihak admisi mereka.

 4. Sistem rumit

Di awal perkuliahan, pihak universitas pasti akan menjelaskan cara mengakses situs dan akun untuk kebutuhan pembelajaran secara lengkap dan terperinci. Dosen juga akan memberikan gambaran secara gamblang tentang sistem penilaian dan capaian kelulusan mata kuliah. Dengan begitu, mahasiswa bisa merencanakan target belajar mereka di awal semester.

"Asalkan punya niat dan mengerti teknologi, mereka pasti bisa. Sisanya mereka akan banyak menggunakan waktu di rumah atau kantor untuk belajar atau mengerjakan tugas lainnya,” ujar Hanafi.

 5. Takut koneksi error

Pilihlah universitas yang sudah terbukti mumpuni dalam sistem teknologi informasi. Hal ini bisa dilihat dari lamanya mereka telah membuka perkuliahan online. Semakin berpengalaman sebuah institusi, kian mantap pula sistem yang dimiliki.

Selain itu, mencari referensi dari rekan kerja yang sudah pernah merasakan kuliah online bisa menjadi alternatif. Bahkan, jika jadwal pekerjaan memungkinkan, cobalah akses situsnya atau datang ke universitas terkait untuk mencoba sistemnya secara langsung.

Jadi, jangan biarkan kesibukan aktivitas sehari-hari menjadi penghalang dalam meraih pendidikan yang lebih tinggi. Buang jauh-jauh mitos tersebut!

Baca: "Online Learning", Hemat Biaya Kuliah hingga 40 Persen!

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorLatief
Komentar