Persaingan Kian Ketat, Ini Syarat Universitas Lokal "Go Internasional"!

Kompas.com - 21/05/2015, 13:00 WIB
shutterstock.com Untuk mengejar ketertinggalan, perguruan tinggi Indonesia wajib mengembangkan standar pendidikan bertaraf internasional

KOMPAS.com - Dalam laporan Human Development Index (HDI) yang diliris UNESCO pada 2013, Indonesia masuk dalam kategori "medium human development". Indonesia bertengger di peringkat ke-108 dari total 187 negara, berada tepat di bawah Palestina.

Namun, jika melirik negara tetangga, Malaysia sudah mampu masuk kategori "high human development" di posisi ke-62, sederet bersama Sri Lanka di peringkat ke-73, dan Thailand di peringkat ke-89. Sementara itu, Singapura sukses meraih peringkat ke-9 dan masuk kategori "very high human development" bersama Hongkong, Korea, dan Jepang.

HDI merupakan salah satu patokan kualitas sumber daya manusia di negara-negara naungan PBB. Tiga indikator utama HDI mencakup penilaian kesehatan jangka panjang, akses terhadap pendidikan, dan standar kesejahteraan hidup. Ketiga aspek tersebut dinilai UNESCO sebagai faktor inti penentu kemajuan suatu bangsa.

Kabar baiknya, menurut laporan UNESCO, HDI Indonesia terus menanjak sejak 1980. Hal itu membuktikan tingkat konsumsi dan melek pendidikan di Indonesia semakin tinggi.

Namun, gejolak politik dan ekonomi pada 1998 sepertinya tak berpengaruh banyak terhadap HDI Indonesia. Jadi, sedikit demi sedikit, dengan kerja keras bersama, Indonesia seharusnya mampu mengejar ketertinggalan.

Kualitas Internasional

"Indonesia membutuhkan institusi pendidikan lokal yang mampu memberikan kualitas internasional. Lihatlah Singapura. Persaingan semakin ketat," ucap Agustinus Nicolaas Hillebrandes Oroh atau Nico, Head of Undergraduate Program of Marketing di Fakultas Business Binus International saat ditemui KOMPAS.com, Rabu (22/4/2015) di kantornya.

Dia menekankan, perguruan tinggi merupakan alat pencetak sumber daya muda kompetitif. Kualitas bertaraf internasional bukan lagi merupakan pilihan, namun keharusan. Karena itu, akreditasi internasional diperlukan sebagai patokan jelas.

"Akreditasi itu kan berarti ada standar tertentu. Kita tidak bisa mengklaim diri kita sendiri bahwa kita memiliki kualitas internasional. Salah satu yang bisa memberikan objektif jelas, ya, akreditasi internasional," tutur Nico.

Dengan adanya akreditasi, menurut dia, para lulusan universitas mampu bertahan di negara sendiri, terutama saat pekerja asing terus menggempur Indonesia. Lebih dari itu, secara mental dan akademik, mereka siap bersaing di luar negeri.

Nico mengatakan, saat ini Binus International telah berhasil meraih akreditasi dari EFMD (European Foundation of Management Development). EFMD adalah organisasi nirlaba yang bertugas mengakreditasi sekolah bisnis internasional berbasis di Belgia, Eropa.

Sampai saat ini, jelas Nico, program S-1 International Accounting & Finance di Binus International merupakan program yang telah mendapatkan akreditasi untuk kriteria EFMD Programme Accreditation System atau EPAS. Akreditasi ini diperoleh untuk periode tiga tahun, terhitung mulai 2015 hingga 2018.

“Sampai saat ini, Binus adalah satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang berhasil meraih akreditasi internasional untuk sekolah bisnis dan manajemen dari EFMD,” tegas Nico.

Dok Binus International Binus Internasional juga sudah mulai membidik akreditasi internasional dari The Association To Advance Collegiate Schools of Business (AACSB) International untuk tahun akademik 2017 nanti.

Dosen sebagai jendela pendidikan

Selain akreditasi, menurut Nico, kualitas dosen juga wajib ditingkatkan. Seiring berkembangnya industri, hal baru terus lahir. Pendidik harus terus memperbarui pengetahuan dan kompetensi diri agar tak tertinggal.

"Ada internal dan eksternal training untuk dosen. Tahun lalu, kami kirim dosen ke Belanda. Ketika pulang, dia sharing. Jangan sampai dosen kita ketinggalan zaman," kata Nico.

Perekrutan dosen pun jadi hal krusial. Ia menyarankan, pengajar harus punya kualifikasi profesional. Tak hanya teori, mereka harus mampu menjembatani penggunaanya di dunia kerja.

"Jadi dosen di sini makin ketat. Sekarang, rektor aja ikut menyeleksi," kata Nico.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorLatief
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X