Kompas.com - 15/06/2015, 12:46 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden Jakarta, Senin (15/6/2015) seusai melantik pengurus Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta. Icha RastikaWakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden Jakarta, Senin (15/6/2015) seusai melantik pengurus Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta.
Penulis Icha Rastika
|
EditorLaksono Hari Wiwoho


JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa perguruan tinggi Islam memiliki tugas lebih berat dibandingkan dengan perguruan tinggi pada umumnya. Di samping memajukan keilmuan, perguruan tinggi Islam berkewajiban memajukan keislaman.

"Bagi perguruan tinggi Islam tentu mempunyai tugas yang lebih berat lagi karena di samping memajukan keilmuan, juga harus memajukan keislaman. Tidak mudah mencapai kedua-duanya karena itu tugas lebih berat, perguruan tinggi Islam diharapkan menjaga moral agama dan menghasilkan alumni yang punya tinggat pendidikan lebih tinggi," kata Kalla saat melantik pengurus Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKPTIS) di Istana Wakil Presiden Jakarta, Senin (15/6/2015).

Menurut Kalla, selama ini masih ada perguruan tinggi Islam yang belum berhasil menjalankan dua tugas tersebut dengan baik. Ia meminta BKPTIS memperhatikan perguruan tinggi Islam yang dinilai belum sukses tersebut.

Dalam kesempatan itu, Kalla menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia. Suatu bangsa bisa maju jika memiliki sumber daya manusia yang mapan. Banyak negara yang tidak memiliki sumber daya alam berlimpah, tetapi bisa menjadi negara maju berkat kualitas sumber daya manusianya.

"Jepang, Taiwan, Singapura bisa maju karena kemampuan individunya yang diambil dari pendidikan," ujar Kalla.

Oleh karena itu, ia berharap perguruan tinggi di Indonesia, khususnya perguruan tinggi Islam, bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Kepada pengurus BKPTIS, Kalla mengingatkan pentingnya melakukan kerja sama nyata antara perguruan tinggi yang tergabung di dalam organisasi tersebut. Ia juga mengingatkan tiga hal penting yang harus diperhatikan, yakni perkembangan kurikulum yang dinamis, standar mutu dan hasil pendidikan, serta penyusunan program kerja sama bersama.

"Persaingan antaruniversitas sangat keras sekali. Tanpa dorongan, tanpa standar, maka akan sulit. Kelebihan masing-masing itu berbeda, ada kemampuannya di bidang agama, ada yang di bidang teknologi, pertanian, mungkin bisa dibikin center. Sehingga bisa terjadi pada umumnya, katakanlah pendidikan S-2 dan S-3, tidak perlu semua harus persiapkan semua mata pelajaran," kata Kalla.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.