Kompas.com - 27/07/2015, 17:19 WIB
Ellawijt, mahasiswi Bachelor of Fine Arts di bidang seni lukis dan menggambar itu meraih penghargaan atas karya penelitiannya berupa manuskrip dan artefak tentang bumi. Dok Manuela Wijayanti/FacebookEllawijt, mahasiswi Bachelor of Fine Arts di bidang seni lukis dan menggambar itu meraih penghargaan atas karya penelitiannya berupa manuskrip dan artefak tentang bumi.
Penulis Latief
|
EditorLatief
CHICAGO, KOMPAS.com — Manuela Wijayanti, mahasiswi asal Indonesia, meraih penghargaan bergengsi, Edward L Ryerson Fellowship 2015, dari The School of the Art Institute of Chicago (SAIC) atau Sekolah Institut Seni Chicago, Amerika Serikat. Mahasiswi Bachelor of Fine Arts di bidang seni lukis dan menggambar itu meraih penghargaan atas karya penelitiannya berupa manuskrip dan artefak tentang bumi.

"Merasakan bagaimana bumi itu sebelum dijamah manusia dan saya 'menemukan' bumi ini. Sebagai seniman, saya mencoba menghormati perspektif mereka, yaitu para ilmuwan, pengamat, ahli geologi, dan filsafat. Tetapi, dalam proses membuat karya itu, saya harus lebih dulu melupakan semua yang saya tahu tentang bumi," ujar Manuela Wijayanti atau akrab disapa Ellawijt melalui surat elektroniknya kepada Kompas.com, Senin (27/7/2015).

Dok Manuela Wijayanti/Facebook Mahasiswi Bachelor of Fine Arts di bidang seni lukis dan menggambar itu meraih penghargaan atas karya penelitiannya berupa manuskrip dan artefak tentang bumi.
Ellawijt menuturkan, selama tiga tahun, ia berproses mengerjakan karyanya tersebut, baik melalui riset laboratorium maupun mengumpulkan koleksi beragam benda bumi. Lewat karyanya itu, dia mengaku mendapat nilai-nilai baru bagi dirinya dan mungkin juga untuk orang lain.

"Bahwa sebagai manusia itu rasa ingin tahu kita tak boleh berhenti di satu titik ketika kita sudah mendapatkan apa yang kita cari, tetapi juga harus menjaga hal-hal yang belum kita tahu dan memohon petunjuk bumi untuk tahu lebih banyak lagi untuk membentuk perspektif kita, menjadi manusia yang kreatif," ujar Ellawijt. 

"Jangan berhenti bertanya dan menemukan jawaban dengan cara menghargai makhluk satu sama lain. Cobalah lakukan apa yang menurut kita tak mungkin berhasil. Proses itu penting, bahkan lebih penting dari hasil," kata peraih beasiswa di Nanyang Academy of Fine art, Singapura, pada 2013 lalu itu.

Dok Manuela Wijayanti/Facebook Mahasiswi Bachelor of Fine Arts di bidang seni lukis dan menggambar itu meraih penghargaan atas karya penelitiannya berupa manuskrip dan artefak tentang bumi.
Adapun The School of the Art Institute of Chicago atau SAIC tahun ini mengumumkan empat penghargaan paling bergengsi, yaitu The 2015 Jacques and Natasha Gelman Graduate Fellowships, The Claire Rosen and Samuel Edes Foundation Prize for Emerging Artists, The Toby Devan Lewis Fellowship, serta The Eldon Danhausen Sculpture Fellowship. 

Selain Ellawijt, mahasiswa lain asal Indonesia yang meraih penghargaan bergengsi tahun ini adalah Leonard Suryajaya lewat karya fotografi. Leonard meraih penghargaan The Claire Rosen and Samuel Edes Foundation Prize for Emerging Artists.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X