Sejarah Balai Budaya Semakin Jelas - Kompas.com

Sejarah Balai Budaya Semakin Jelas

Kompas.com - 05/08/2015, 23:45 WIB
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Seniman dan pemerhati seni berdiskusi di Balai Budaya Jakarta, Rabu (5/8). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana akan membangun kembali Balai Budaya Jakarta. Saat ini kondisi Balai Budaya memprihatinkan karena sebagian besar bangunan rusak dan lapuk akibat dimakan usia.

JAKARTA, KOMPAS — Setelah lama tak terurus, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana membangun kembali Balai Budaya di Jalan Gereja Theresia 47, Menteng, Jakarta. Sejarah gedung bersejarah ini mulai terungkap seiring penemuan sejumlah dokumen bersejarah di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Penelusuran sejarah Balai Budaya secara tak sengaja ditemukan oleh mantan Sekretaris Utama Badan Pengurus Kebudayaan dan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang sekarang menjabat sebagai anggota Lembaga Sensor Film, Nunus Supardi. Tahun 2004, Nunus menemukan dua dokumen, pertama adalah Warta Kebudayaan yang dikeluarkan Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional (BMKN) tanggal 14 April 1954 dan Laporan untuk Rapat Umum BKMN Tahun 1954.

"Dua dokumen itu saya temukan tahun 2004 di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan sempat tidak saya buka lama. Setelah media massa memberitakan tentang nasib gedung Balai Budaya yang tidak jelas dan terbengkalai, akhirnya saya sampaikan data ini kepada Ketua Balai Budaya Cak Kandar," kata Nunus, Rabu (5/8) di Jakarta.

Warta Kebudajaan berisi pidato Ketua Badan Pekerja BMKN R Gaos Hardjasoemantri pada perayaan ulang tahun ke-2 BMKN sekaligus pembukaan Balai Budaya 14 April 1954. Hadir saat itu Menteri Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan Mr Moh Yamin.

"Tanggal 14 April 1954 untuk BMKN merupakan hari yang penting dalam sejarahnya, yaitu selain merayakan hari ulang tahun kedua dapat juga kita bersama membuka Balai Budaya ini," ujar Gaos Hardjasoemantri dalam kutipan pidatonya.

Badan Pekerja BMKN kala itu sebanyak 7 orang yang terpilih dari 20 orang anggota pengurus. Ketujuh anggota Badan Pekerja BMKN lima di antaranya dari Jakarta dan dua lain dari luar Jakarta.

Data menarik lain adalah pembelian dan perbaikan Balai Budaya disubsidi oleh Kementerian Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan sebesar Rp 100.000. Kepemilikan gedung ini di bawah Kementerian Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan sedangkan pemanfaatannya diserahkan kepada BMKN.

Ketua Balai Budaya Cak Kandar mengatakan, dengan penemuan data-data sejarah Balai Budaya ini, maka status kepemilikan dan sejarah Balai Budaya semakin jelas. Dengan demikian, nantinya pemerintah bisa memperhatikan kembali nasib Balai Budaya ke depan.

Saat ini, kondisi Balai Budaya sangat memprihatinkan karena bangunannya rusak parah. Dengan segala keterbatasan, bangunan ini tetap difungsikan sebagai tempat pameran sekaligus wahana pertemuan para seniman meski tak lagi seramai dulu. (Aloysius B Kurniawan)

____________

Berita ini juga tayang di Kompas Siang edisi Rabu, 5 Agustus 2015. Berikut tautannya: Sejarah Balai Budaya Semakin Jelas


EditorHindra Liauw

Terkini Lainnya


Close Ads X