Mari Elka Pangestu: Ekonomi Kreatif Kekuatan Baru Ekonomi Indonesia

Kompas.com - 08/08/2015, 15:33 WIB
Mari Elka Pangestu dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Ekonomi Internasional, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia di Balai Sidang UI, Depok, Sabtu (8/8/2015). KOMPAS.COMMari Elka Pangestu dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Ekonomi Internasional, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia di Balai Sidang UI, Depok, Sabtu (8/8/2015).
|
EditorTri Wahono
KOMPAS.com - Ekonomi kreatif merupakan kekuatan baru ekonomi Indonesia untuk menjawab tantangan globalisasi dan mencapai pembangunan berkelanjutan.

Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Mari Elka Pangestu dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Ekonomi Internasional, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia di Balai Sidang UI, Depok, Sabtu (8/8/2015)

Dalam pidatonya yang berjudul "Globalisasi, Ekonomi Baru, dan Pembangunan Berkelanjutan", Mari mengemukakan, mengandalkan modal dan teknologi tidak lagi cukup untuk mempertahankan daya saing dan pertumbuhan ekonomi. Dalam pendekatan ilmu ekonomi, dibutuhkan juga kreativitas, ide kreatif, dan inovasi untuk menciptakan nilai tambah.

"Indonesia membutuhkan diversifikasi sumber kekuatan baru sebagai sumber pembangunan ekonomi dengan tetap mempertahankan konsep pembangunan berkelanjutan," kata Mari.

Tak hanya itu. Menteri Perdagangan periode 2004-2001, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2011-2014 ini menyampaikan, warisan budaya dan kearifan lokal serta teknologi yang ada juga dapat menjadi modal utama menghadapi tantangan globalisasi.  Sebagai contoh bentuk ekonomi kreatif dalam e-commerce yaitu munculnya platform penyedia jasa seperti Go-jek.

"Platform Go-jek merupakan suatu keniscayaan dalam meningkatkan produktivitas dengan menguntungkan pengojeknya. Sekarang yang dapat dilakukan adalah bagaimana kita memberdayakan pengojek agar turut serta bergabung dalam platform sejenis. Sementara itu, untuk mengatasi ojek konvensional, perlu penyesuaian pemain lama dengan pemain baru dengan baru dengan adil," kata Mari.

Dari sisi pemerintah, Mari melihat perlu adanya komitmen politis yang konsisten untuk menciptakan iklim yang kondusif. Mari memberikan contoh pemerintah Korea dan Inggris yang telah berhasil membuat industri kreatifnya terkenal hingga mendunia.

"Pemerintah bisa berperan untuk meningkatkan apresiasi, pengarsipan serta jaminan hak intelektual (HAKI). Ruang publik yang penting seperti gedung kesenian, galeri dan ruang komunitas kreatif harus diciptakan," ujar putri dari ekonom kenamaan Dr. Pang Lay Kim ini.

Mari mengatakan, dengan terjaminnya hak intelektual (HAKI) serta ide kreatif, ide dan inovasi dapat terus mengalir dari pencetus ide. Dengan begitu, pemilik ide kreatif bisa memperoleh manfaat ekonomi, keuntungan yang layak dari kreativitas serta menjadi stimulus untuk ide baru. Sesungguhnya inilah esensi dari ekonomi kreatif.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X